MOROTAI, Radar Nusantara 7.com — Pembukaan Basic Training Latihan Kader I (LK-I) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat se-Cabang Pulau Morotai digelar di Aula SMA Negeri 1 Pulau Morotai, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan pengkaderan tersebut mengusung tema “Terbinanya Kepribadian Muslim yang Berkualitas Akademis, Sadar akan Fungsi dan Peran dalam Berorganisasi serta Kewajibannya sebagai Kader Umat dan Kader Bangsa.”
Pembukaan training berlangsung khidmat dan penuh semangat. Sejumlah kader dan calon kader HMI mengikuti rangkaian kegiatan sebagai bagian dari proses pengkaderan organisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Irfan Hi. Abd. Rahman yang mewakili Koordinator Presidium KAHMI Morotai menyampaikan sejumlah pesan kepada peserta training, terutama mengenai pentingnya menjaga idealisme dan konsistensi dalam menjalani proses pengkaderan.
Irfan menjelaskan bahwa dirinya hadir atas utusan Presidium MD KAHMI Morotai, Marwan Sidasi, bersama sejumlah alumni HMI lainnya.
“Saya diutus oleh Bang Marwan, Presidium MD KAHMI Morotai, beserta alumni yang lain. Dikarenakan malam ini sebenarnya ada pertemuan alumni guna membahas kesiapan pelantikan KAHMI, sehingga para alumni yang lain belum berkesempatan hadir,” tuturnya.
Menurut Irfan, dinamika dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Perbedaan pandangan, kata dia, harus dihadapi dengan sikap saling menghargai dan mengedepankan dialog.
“Dinamika di hari ini, setelah itu normal saja. Karena kita biasa berdialog. Masing-masing punya pandangan, kita saling menghargai satu dengan yang lain,” ujarnya.
Ia mengajak para peserta untuk tidak ragu menjadikan HMI sebagai ruang belajar dan berproses selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Menurutnya, bergabung dan berproses di HMI merupakan pilihan untuk mengembangkan kapasitas diri, selama dijalankan dengan sungguh-sungguh dan konsisten.
Irfan juga menekankan bahwa keberadaan HMI tidak dapat dipisahkan dari kader-kader yang menjalankan aktivitas serta nilai perjuangan organisasi.
“HMI tanpa kita semua adalah instrumen yang tidak terperankan. Dia adalah wujud abstrak. Siapa yang bisa menunjukkan HMI? Kehadiran kita semua di sinilah yang kemudian menampakkan simbol-simbol ke-HMI-an. Kalau tanpa ada kader, maka HMI itu sebenarnya tidak ada,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa HMI memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan telah melewati berbagai dinamika sejak berdiri pada 1947.
Menurut Irfan, bertambahnya usia organisasi harus diikuti dengan peningkatan kualitas kader yang menjalani proses di dalamnya.
“Kalau misalnya diibaratkan usia manusia, itu sudah masuk sepuh, sudah sangat kuat. Tetapi interkualitas yang dikukuh oleh anak-anak HMI yang berproses di dalam kader HMI jangan kemudian hilang dengan bertambahnya usia organisasi,” tuturnya.
Karena itu, ia meminta para kader yang telah memilih HMI untuk menjaga konsistensi dalam menjalani proses organisasi.
Irfan mengatakan, tidak semua peserta yang mengikuti proses pada tahap awal akan bertahan hingga jenjang berikutnya. Namun, menurutnya, konsistensi dan kepedulian terhadap organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang kader.
“Kalau Anda sudah bergabung bersama HMI, jadilah kader yang benar-benar berproses secara alamiah. Di HMI itu, misalnya masuk 30, mungkin yang konsisten tinggal lima atau enam. Kalau sampai pada jenjang berikutnya, mungkin semakin berkurang,” katanya.
Pesan untuk Menjaga Idealisme
Lebih jauh, Irfan berpesan agar kader HMI tetap menjaga idealisme selama menjalani proses organisasi maupun ketika telah berada di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa proses panjang dalam organisasi seharusnya tidak berakhir pada sikap pragmatis yang menghilangkan nilai-nilai perjuangan.
“Yang penting jaga idealisme. Kadang jadi kader tidak bisa menjaga idealisme. Akhirnya setelah selesai, yang terkesan di banyak orang bukan intelektualitas kader, bukan nilai yang diperjuangkan, tetapi pragmatisme yang kemudian melekat,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta peserta menjadikan proses training bukan sekadar kegiatan seremonial atau aktivitas organisasi tanpa arah.
“Proses ini harus bisa dijalani secara baik. Bahwa proses di HMI itu bukan sekadar proses kita berdiskusi, bermalam-malam, kajian tanpa arah. Tetapi kita berproses di sini karena ini adalah rumah keluarga kita,” katanya.
Dorong Gerakan Mahasiswa Berbasis Gagasan
Dalam kesempatan tersebut, Irfan juga menyinggung kondisi gerakan mahasiswa yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya beberapa waktu terakhir tengah menulis opini mengenai degradasi gerakan mahasiswa. Menurutnya, perubahan pola gerakan mahasiswa perlu diikuti dengan penguatan gagasan dan kualitas intelektual.
“Beberapa waktu yang lalu sebenarnya saya sedang menulis sebuah opini tentang degradasi gerakan mahasiswa yang akhir-akhir ini cukup memperhatikan,” ujarnya.
Ia berharap gerakan mahasiswa ke depan tidak hanya mengandalkan aktivitas aksi, tetapi juga mampu memperkuat gagasan serta menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Ke depan pola gagasan yang diperjuangkan adalah gagasan yang konstruktif,” katanya.
Irfan berharap proses pengkaderan HMI di Morotai dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya memahami nilai-nilai keislaman dan keorganisasian, tetapi juga memiliki kemampuan akademik, menjaga idealisme, serta mampu mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pembukaan Basic Training LK-I tersebut menjadi bagian awal dari proses pengkaderan HMI Komisariat se-Cabang Pulau Morotai dalam membentuk kader yang memiliki kapasitas intelektual sekaligus kesadaran terhadap tanggung jawab sebagai kader umat dan kader bangsa.
(Red/FH)






