PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
IMG-20260912-WA0006

MAGETAN//Radar nusantara7.com– Rumah duka Serda Ahmad Muzammil Farisa (22), di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, dipenuhi pelayat pada Jumat (11/9/2026). Karangan bunga tampak berjejer di sekitar kediaman keluarga sebagai ungkapan belasungkawa atas meninggalnya prajurit TNI Angkatan Udara tersebut.

Jenazah Ahmad telah dimakamkan di kompleks pemakaman umum Desa Jonggrang pada Jumat dini hari. Peti jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelum prosesi pemakaman, pihak keluarga sempat membuka peti untuk memastikan identitas jenazah.

Ahmad diketahui merupakan anggota Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau), badan pelaksana pusat di bawah Mabes TNI AU. Prajurit berusia 22 tahun tersebut dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WIB, Kamis (10/9/2026).

Kematian Ahmad disebut berkaitan dengan dugaan tindak kekerasan yang terjadi di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Ahmad merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Ia adalah putra pasangan Toni Eko Prasetyo, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Madiun, dan Retno Setyorini.

Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mengatakan pihak keluarga pertama kali menerima kabar mengenai kondisi Ahmad pada Kamis pagi. Informasi tersebut disampaikan oleh rekan-rekan satu angkatan Ahmad yang berada di Jakarta.

Namun, menurut Toni, informasi awal yang diterima keluarga belum memberikan penjelasan secara jelas mengenai penyebab meninggalnya Ahmad.

“Kami ditelepon dari Jakarta melalui teman-teman angkatan almarhum anak saya pada Kamis pagi terkait kabar duka tersebut,” ujar Toni.

Toni mengungkapkan, informasi awal yang diterima keluarga menyebut Ahmad meninggal akibat kecelakaan yang berkaitan dengan proses pembinaan oleh senior. Namun, setelah keluarga memperoleh informasi dari pihak Dispsiau, penyebab kematian disebut berkaitan dengan dugaan penganiayaan oleh senior.

“Awalnya informasi memang simpang siur karena kecelakaan sejak pembinaan senior. Namun dari Dinas Psikologi tempat anak kami bekerja, infonya penganiayaan yang dilakukan senior,” tuturnya.

Atas kejadian tersebut, keluarga meminta agar seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan meninggalnya Ahmad dapat diungkap secara terang dan diproses sesuai ketentuan hukum.

Toni mengatakan Ahmad baru sekitar dua tahun menjalankan tugas di lingkungan Psikologi Mabes AU. Karena itu, keluarga berharap proses penanganan perkara dapat memberikan kepastian hukum sekaligus memenuhi rasa keadilan bagi keluarga korban.

“Kami keluarga yang merasa kehilangan sekali. Anak saya baru dua tahun dinas di Psikologi Mabes AU. Harapan kami bisa benar-benar mendapatkan hak dan keadilan,” tegasnya.

Keluarga juga mendapat informasi bahwa telah ada seorang tersangka yang diamankan di Pusat Polisi Militer (Puspom). Toni berharap proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dilakukan secara transparan dan profesional.

“Karena kehilangan nyawa bagi saya sangat mutlak. Sudah ada tersangka yang ditahan di Puspom. Harapan kami benar-benar bisa diusut tuntas dan diproses seadil-adilnya. Hukum harus ditegakkan,” katanya.

Mengenai kondisi jenazah, Toni menyebut keluarga sempat menerima foto hasil pemeriksaan visum. Dalam foto tersebut, menurutnya, terlihat adanya luka pada bagian dagu serta lebam di bagian dada.

Meski demikian, Toni menegaskan bahwa keluarga belum mengetahui secara lengkap hasil pemeriksaan karena belum menerima dan membaca berita acara resmi.

“Sekilas dari foto yang kami terima dari visum memang ada luka di dagu dan dada lebam-lebam. Kami sendiri juga belum paham karena belum membaca berita acara secara resmi. Kami hanya mendapat rilis laporan penganiayaan,” ungkapnya.

Keluarga berharap kasus tersebut mendapat perhatian serius dari jajaran pimpinan TNI hingga pemerintah pusat. Toni meminta proses hukum tidak berhenti pada penetapan tersangka, tetapi juga mengungkap secara menyeluruh rangkaian kejadian yang menyebabkan putranya meninggal dunia.

“Kami mohon kepada yang berwenang, baik melalui Panglima TNI, KASAU, maupun Presiden Prabowo Subianto, agar hal ini menjadi atensi khusus dan betul-betul diperhatikan,” pintanya.

Menurut Toni, persoalan tersebut menyangkut hilangnya nyawa putranya yang masih berusia 22 tahun. Karena itu, keluarga meminta seluruh pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan kejadian tersebut diperiksa sesuai ketentuan hukum.

“Harapan kami pelakunya bisa diusut tuntas dan dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatannya,” pungkasnya.

Keluarga menyerahkan proses penyelidikan dan penegakan hukum kepada pihak yang berwenang, dengan harapan seluruh fakta dapat terungkap secara objektif dan transparan.

(Ipung) Radar Nusantara 7.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *