PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
1791764700125

Radar Nusantara 7.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan pemutakhiran data sejak Sabtu (10/10/2026) hingga Minggu (11/10/2026) pukul 07.00 WIB. Bencana yang dilaporkan meliputi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues serta Kabupaten Aceh Tenggara, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, serta banjir yang masih berdampak pada sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat.

Berbagai upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama TNI/Polri, Basarnas, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat. Pendataan dampak, evakuasi warga, pembersihan material longsor, hingga penyaluran bantuan kebutuhan dasar menjadi prioritas di wilayah terdampak.

Di Provinsi Aceh, banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Gayo Lues pada Jumat (9/10/2026) setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. Bencana ini berdampak pada Kecamatan Blangkejeren dan Kecamatan Dabun Gelang.

Wilayah terdampak meliputi Desa Kala Pinang dan Desa Leme di Kecamatan Blangkejeren, serta Desa Kendawi di Kecamatan Dabun Gelang. Berdasarkan laporan sementara, satu kepala keluarga terdampak, sedangkan pendataan lanjutan terhadap kerusakan dan dampak lainnya masih berlangsung.

Dari sisi infrastruktur, satu unit rumah dan satu unit jembatan dilaporkan terdampak. Sementara itu, kondisi lahan persawahan dan tiga akses jalan masih dalam pendataan.

Dampak paling signifikan terhadap akses transportasi terjadi pada Jalan Nasional lintas Blangkejeren–Takengon yang ditutup total akibat tertimbun material longsor. Kondisi tersebut memerlukan penanganan segera agar akses transportasi dapat kembali pulih.

BPBD Kabupaten Gayo Lues berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan asesmen dan penanganan di lapangan. Tim gabungan yang melibatkan BPBD, PUPR/HK, dan unsur terkait mengerahkan satu unit alat berat jenis ekskavator Komatsu guna membantu membersihkan material banjir dan longsor.

Berdasarkan kondisi terakhir pada Sabtu (10/10/2026), air dilaporkan telah surut. Namun, pembersihan sisa material masih berlangsung dengan melibatkan petugas dan masyarakat. BPBD setempat juga terus memantau perkembangan situasi serta bersiaga selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.

Kejadian serupa terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara. Hujan berintensitas tinggi dalam durasi panjang pada Jumat (9/10/2026) memicu banjir dan tanah longsor di Kecamatan Ketambe, Lawe Bulan, dan Babussalam.

Wilayah terdampak meliputi Desa Kati Maju, Desa Pulonas Baru, dan Desa Pulo Latong. Selain berdampak pada permukiman, bencana tersebut juga mengganggu infrastruktur dan akses transportasi.

Ruas jalan Kutacane–Blangkejeren dilaporkan tertutup material longsor sehingga menghambat mobilitas masyarakat. Selain itu, satu unit tanggul dilaporkan jebol, sedangkan bangunan pengambilan air untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara dilaporkan hanyut.

BPBD Kabupaten Aceh Tenggara melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan asesmen untuk mengetahui kondisi lapangan serta kebutuhan penanganan. Satu unit ekskavator juga dikerahkan untuk membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.

Hingga Sabtu (10/10/2026), air dilaporkan telah surut. Meski demikian, pembersihan material longsor masih berlangsung. Data korban dan dampak terhadap masyarakat juga masih dalam proses pendataan dan pemutakhiran.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, pada Jumat (9/10/2026) sekitar pukul 18.00 WIT.

Berdasarkan pendataan sementara, kebakaran tersebar di 10 distrik. Luas lahan terbakar di sembilan lokasi yang telah dirinci mencapai sekitar 63 hektare, sedangkan luas lahan terbakar di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, masih dalam pendataan. Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam penyelidikan.

Sepuluh distrik yang dilaporkan terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel.

Adapun lokasi kebakaran mencakup Kampung Harapan Makmur, Kampung Kondo, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, Desa Bumun, Desa Set Agung, Kampung Wakai, Kampung Wanam, Kampung Salam Epe, dan Kampung Ihalik.

Rincian sementara luas lahan terbakar di sembilan lokasi adalah sebagai berikut:

  • Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik: sekitar 7 hektare.
  • Desa Sota, Distrik Sota: sekitar 5 hektare.
  • Desa Sarmayam Indah, Distrik Tanah Miring: sekitar 5 hektare.
  • Desa Bumun, Distrik Eli Kobel: sekitar 20 hektare.
  • Desa Set Agung, Distrik Muting: sekitar 4 hektare.
  • Kampung Wakai, Distrik Subur: sekitar 3 hektare.
  • Kampung Wanam, Distrik Ilwayab: sekitar 9 hektare.
  • Kampung Salam Epe, Distrik Ngguti: sekitar 7 hektare.
  • Kampung Ihalik, Distrik Kaptel: sekitar 3 hektare.

Angka tersebut merupakan data sementara dan dapat berubah mengikuti hasil pendataan di lapangan.

Penanganan dilakukan oleh BPBD Provinsi Papua Selatan bersama BPBD Kabupaten Merauke, pemadam kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja, serta pihak distrik. Petugas mengerahkan satu unit mobil water supply, satu mobil patroli, dan dua sepeda motor patroli karhutla untuk mendukung upaya penanganan.

Berdasarkan perkembangan terakhir pada Sabtu (10/10/2026), api di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun dilaporkan telah padam dan memasuki tahap pendinginan. Sementara itu, kebakaran di Desa Set Agung masih dalam penanganan.

Penanganan kebakaran di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe dilakukan oleh pihak perusahaan. Adapun kebakaran di Kampung Kondo, Kampung Wakai, dan Kampung Ihalik dilaporkan belum dapat ditangani karena lokasi yang jauh dan sulit dijangkau.

Hingga laporan diterima, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat karhutla tersebut. Pemantauan dan koordinasi tetap diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan api, khususnya di lokasi yang belum dapat dijangkau petugas.

Di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, banjir masih berdampak pada sejumlah kawasan permukiman setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu (10/10/2026).

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Sumatera Barat pada Minggu (11/10/2026) pukul 03.34 WIB, banjir belum surut dan proses pendataan serta evakuasi warga masih berlangsung.

Banjir dilaporkan terjadi di tiga kecamatan, yakni Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo, yang mencakup enam kelurahan: Kuranji, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Lubuk Minturun, Tabiang Banda Gadang, dan Gurun Laweh.

Data sementara mencatat sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa terdampak banjir. Selain itu, sebanyak 672 jiwa dilaporkan mengungsi di Kecamatan Kuranji, tepatnya di Kelurahan Kuranji.

Para pengungsi tersebar di tiga lokasi, yaitu tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga sebanyak 367 jiwa, Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah sebanyak 250 jiwa, serta Warung Jembatan Guo sebanyak 55 jiwa.

Jumlah warga terdampak dan pengungsi tersebut masih dalam proses pendataan serta pemutakhiran oleh petugas.

Dari sisi kerusakan, satu unit rumah dilaporkan mengalami rusak berat dan empat unit rumah rusak sedang. Selain itu, sekitar 120 unit rumah terdampak banjir.

Banjir juga menyebabkan akses jalan di wilayah Kuranji, tepatnya di sekitar PDAM daerah Guo, terputus sehingga menghambat perjalanan dan akses menuju sejumlah lokasi terdampak.

BPBD Kota Padang bersama unsur terkait melakukan kaji cepat, pendataan, dan evakuasi warga. Tim SAR gabungan dilaporkan telah mengevakuasi sebanyak 238 jiwa.

Penanganan melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang, Basarnas Padang, TNI/Polri, BPBD, Dinas Sosial, relawan, serta masyarakat.

Selain evakuasi, bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsi juga telah disalurkan oleh sejumlah instansi.

Bank Nagari bersama Bagian Umum Pemerintah Kota Padang menyalurkan 500 bungkus nasi. Sementara itu, BPBD Kota Padang menyalurkan 100 selimut.

Dinas Sosial Kota Padang turut memberikan bantuan berupa 23 dus mi instan, 30 paket makanan anak, 30 paket family kit, 16 paket pakaian anak, serta 30 unit atau lembar kasur.

Bantuan tersebut disalurkan ke wilayah Koto Tangah dan Kuranji sesuai dengan tujuan distribusi masing-masing instansi. Upaya pemenuhan kebutuhan dasar terus dilakukan seiring berlangsungnya proses evakuasi dan pendataan warga.

Luasnya wilayah terdampak dan terputusnya sejumlah akses jalan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam menjangkau masyarakat. Karena itu, koordinasi lintas instansi terus dilakukan guna memperlancar penanganan darurat.

Wali Kota Padang bersama Kapolda, Kapolres, Ketua DPRD Kota Padang, Sekretaris Daerah Kota Padang, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), dan camat juga meninjau kondisi banjir di Perumahan Cluster Luminpark. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi wilayah terdampak sekaligus memastikan penanganan dan evakuasi warga berjalan sesuai kebutuhan.

Selain penanganan darurat, perbaikan tanggul yang jebol di daerah aliran sungai Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, menjadi salah satu rekomendasi penanganan guna mendukung upaya pengurangan risiko banjir.

BNPB terus mendorong pemerintah daerah bersama unsur terkait untuk mengoptimalkan penanganan darurat, memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsi, serta memastikan keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam durasi panjang. Warga yang tinggal di kawasan rawan bencana diharapkan mengenali potensi bahaya di sekitarnya, menjaga keselamatan diri dan keluarga, serta segera menuju tempat yang lebih aman apabila situasi mengancam keselamatan.

Terkait karhutla, masyarakat diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kemunculan titik api kepada pihak berwenang.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan arahan pemerintah daerah maupun petugas penanggulangan bencana guna mengantisipasi kemungkinan perkembangan situasi.

Radar Nusantara 7.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *