SERANG, Radar Nusantara 7.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menutup rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026 melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan Banten Lama, Kota Serang, Provinsi Banten, Kamis (15/10/2026). Sebanyak 2.026 bibit pohon disiapkan untuk mendukung upaya mitigasi bencana berbasis lingkungan sekaligus menjaga kelestarian kawasan bersejarah tersebut.
Kegiatan yang dipusatkan di halaman Museum Nagari, kawasan Banten Lama, ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, masyarakat, mitra dunia usaha, hingga perwakilan pondok pesantren.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman bencana melalui langkah nyata yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan keberlanjutan.
Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penanaman pohon merupakan salah satu bentuk mitigasi bencana yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Menurutnya, Provinsi Banten memiliki beragam potensi ancaman bencana, di antaranya banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, letusan gunung api, tanah longsor, likuefaksi, hingga tsunami.
Oleh karena itu, upaya pengurangan risiko bencana perlu dilakukan sejak dini melalui berbagai langkah pencegahan dan mitigasi, termasuk menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana.
Pangarso juga menekankan pentingnya menjaga kawasan Banten Lama yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat. Menurutnya, pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan bersejarah agar manfaatnya tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Ia mengingatkan agar kegiatan penanaman pohon tidak berhenti pada seremoni semata. Pemeliharaan, perawatan, dan pengembangan tanaman secara berkelanjutan menjadi bagian penting untuk memastikan bibit yang ditanam dapat tumbuh serta memberikan manfaat nyata bagi lingkungan.
Gerakan menanam dan merawat pohon diharapkan dapat berkembang menjadi budaya masyarakat, khususnya di Provinsi Banten, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 26 bibit buah ditanam secara simbolis oleh para tamu undangan di halaman Museum Nagari, kawasan Banten Lama. Sementara itu, sebanyak 2.000 bibit lainnya diserahkan kepada tujuh perwakilan pondok pesantren untuk ditanam dan dikelola di lingkungan masing-masing.
Bibit yang disalurkan terdiri atas tanaman buah produktif, di antaranya mangga, rambutan, dan manggis. Selain mendukung penghijauan, tanaman tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan ekologis bagi masyarakat serta lingkungan pondok pesantren.
Dari sisi lingkungan, keberadaan vegetasi dapat membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi limpasan air permukaan pada kondisi tertentu, serta mendukung kestabilan tanah dan mengurangi risiko erosi. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada jenis tanaman, kondisi lahan, serta pemeliharaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, penanaman pohon menjadi salah satu bagian dari upaya mitigasi berbasis lingkungan yang perlu didukung langkah lain, seperti pengelolaan tata air, perlindungan kawasan resapan, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Sebagai penutup rangkaian Peringatan Bulan PRB 2026 di Provinsi Banten, kegiatan ini menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana bukan sekadar agenda tahunan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan di kawasan Banten Lama juga diisi dengan kunjungan museum dan ziarah edukatif untuk mengenal lebih dekat nilai sejarah serta budaya setempat.
Melalui kegiatan tersebut, BNPB berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, media, dan masyarakat semakin kuat dalam membangun budaya sadar bencana.
Mitigasi perlu dilakukan sebelum bencana terjadi melalui tindakan nyata, termasuk menjaga kelestarian lingkungan, merawat vegetasi, melindungi kawasan resapan air, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Dengan komitmen dan kerja sama yang berkelanjutan, upaya tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya lingkungan yang lebih tangguh serta meningkatkan perlindungan dan keselamatan masyarakat bagi generasi sekarang maupun mendatang.
Redaksi Radar Nusantara 7.com
#BulanPRB #BulanPRB2026 #BNPBIndonesia #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana






