Radar nusantara7.com – Jawa Timur Keberadaan istilah Tatanan Jenggolo Manik kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pemerhati sejarah dan budaya lokal Jawa. Istilah ini tidak hanya dipandang sebagai rangkaian kata biasa, melainkan menyimpan makna filosofis, jejak perjalanan sejarah, hingga cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun.
Secara etimologis, “Jenggolo” atau “jenggalek” kerap dimaknai sebagai “tempatnya”, sementara “manik” diartikan sebagai “harus tahu” atau memahami. Dalam konteks budaya Jawa, “manik” atau “manikem” juga berkaitan dengan istilah payuwitan, yang berarti ungkapan puji syukur atau ucapan terima kasih (matur nuwun). Dengan demikian, Tatanan Jenggolo Manik dapat dimaknai sebagai suatu tempat atau tatanan yang mengandung nilai kesadaran, pengetahuan, dan rasa syukur.
Dalam salah satu peninggalan yang dipercaya masyarakat, terdapat tulisan pada batu yang berbunyi: “wowoto boboto tonopo tanah jawa wiwiting babating, tanah jawa wiwite babate, ndul e ngandong.” Tulisan ini diyakini sebagai simbol awal mula kehidupan dan perkembangan tanah Jawa, yang kemudian dikaitkan dengan konsep Jenggolo Manik.

Cerita ini juga bersinggungan dengan kisah perjalanan tokoh yang dikenal sebagai Sultan Ngadirin. Dalam narasi yang berkembang, disebutkan bahwa perjalanan beliau melintasi berbagai wilayah seperti Mongol, Campa, hingga akhirnya kembali ke Pulau Jawa. Di pesisir utara Jawa, tepatnya di wilayah Jepara, Sultan Ngadirin disebut bertemu kembali dengan sosok yang diyakini sebagai ibundanya, Mbok Reno.
Pertemuan tersebut kemudian berlanjut menjadi ikatan yang membawa mereka merintis kehidupan di wilayah yang dikenal sebagai Kali Gapura dan Kali Sima. Kisah ini dipercaya sebagai bagian dari awal perkembangan peradaban di wilayah tersebut, meskipun belum sepenuhnya didukung oleh bukti sejarah tertulis yang kuat.
Seiring waktu, cerita berlanjut pada sosok Mbah Ndul yang disebut merekam jejak pada masa kolonial Belanda. Dalam konteks ini, muncul istilah “nedud” yang dihubungkan dengan “nandhong”, yang berarti sumber kehidupan atau tempat berkembang. Istilah “nedud” juga diartikan sebagai proses pertumbuhan, bahkan dikaitkan dengan makna kehamilan atau awal kehidupan.
Pada masa kolonial, “karetan nedud” disebut sebagai awal mula penanaman karet di wilayah tersebut. Hingga kini, masyarakat masih meyakini adanya sisa peninggalan berupa pohon karet tua yang menjadi saksi sejarah, meskipun keberadaannya belum dapat dipastikan secara ilmiah dan masih dalam pencarian.
Selain itu, tokoh lain yang turut disebut dalam cerita ini adalah Mbah Loreng atau Mbah Wareng, yang diyakini pernah tinggal di wilayah Arjowilangun. Di daerah tersebut, tepatnya di wilayah yang dikenal sebagai “Ipek”, terdapat makam yang hingga kini sering dikunjungi dan dianggap sebagai makam tokoh tersebut oleh masyarakat setempat.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai bahwa kisah Tatanan Jenggolo Manik masih berada dalam ranah sejarah lisan dan kearifan lokal yang perlu dikaji lebih lanjut. Para peneliti sejarah menekankan pentingnya verifikasi melalui sumber tertulis maupun arkeologis untuk memperkuat kebenaran narasi yang berkembang.
Di sisi lain, masyarakat melihat cerita ini sebagai bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai spiritual dan filosofi mendalam. Terlepas dari aspek historisnya, Tatanan Jenggolo Manik tetap menjadi simbol pengingat akan pentingnya pengetahuan, asal-usul, serta rasa syukur dalam kehidupan.
Dengan perpaduan antara sejarah, mitologi, dan nilai budaya, Tatanan Jenggolo Manik menjadi warisan cerita yang terus hidup, menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Sumber: Yulinda






