Radar nusantara 7.com//ngajuk – Kamis, 21 Mei 2026 – Rombongan biksu Thudong yang tengah menjalani perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur masih berada di Pendopo Kabupaten Nganjuk pada Kamis pagi (21/5/2026) sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah barat Kabupaten Nganjuk. Kehadiran rombongan tersebut mendapat perhatian masyarakat yang antusias menyaksikan perjalanan ritual para biksu dari berbagai negara Asia Tenggara itu.
Dari Pendopo Kabupaten Nganjuk, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi sejumlah ruas jalan utama, yakni Jalan Kartini, Jalan Gatot Subroto, jalur Bagor, Wilangan, hingga memasuki wilayah Madiun untuk proses serah terima pengamanan dan pengawalan dengan jajaran Polres Madiun.
Kanit Kamsel Satlantas Polres Nganjuk, Iptu Dwi Purnomo, mengatakan selama rombongan melintas tidak dilakukan penutupan arus lalu lintas. Meski demikian, pihak kepolisian mengimbau masyarakat dan pengguna jalan agar tetap berhati-hati serta mengurangi kecepatan kendaraan demi menjaga keselamatan bersama.
“Tidak ada penutupan jalan selama rombongan melintas. Kami mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dan mengurangi kecepatan kendaraan saat melewati jalur yang digunakan rombongan biksu Thudong,” ujar Iptu Dwi Purnomo.
Sebelumnya, rombongan biksu diketahui bermalam di Klenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, sebelum kembali melanjutkan perjalanan pada Kamis pagi. Selama berada di Nganjuk, para biksu mendapat sambutan hangat dari masyarakat maupun pengurus tempat ibadah setempat.
Diketahui, menjelang peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026, sebanyak 58 biksu dari Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Laos tengah menjalani ritual Thudong, yakni perjalanan spiritual dengan berjalan kaki menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.
Tradisi Thudong merupakan salah satu praktik spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki jarak jauh sebagai bentuk latihan kesederhanaan, ketekunan, disiplin, serta pengendalian diri. Perjalanan para biksu tersebut juga kerap menjadi perhatian masyarakat di berbagai daerah yang dilintasi karena dinilai membawa pesan kedamaian, toleransi, dan persaudaraan lintas budaya.
Di sepanjang perjalanan, aparat kepolisian bersama instansi terkait terus melakukan pengamanan dan pengawalan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas sekaligus menjaga keselamatan rombongan maupun pengguna jalan lainnya.
Masyarakat diimbau tetap menjaga ketertiban selama rombongan melintas dan menghormati kegiatan spiritual tersebut sebagai bagian dari keberagaman budaya dan kehidupan beragama di Indonesia.
Sumber:tim






