RADAR NUSANTARA 7.COM | MOROTAI, JUMAT 14 AGUSTUS 2026 — Abrasi pantai semakin mengancam permukiman warga Desa Kolorai, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai. Daratan pesisir terus tergerus, sementara sumber air bersih warga diduga mulai terdampak intrusi air laut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sekitar 600 jiwa warga Kolorai kini menghadapi ancaman abrasi sekaligus kesulitan memperoleh air bersih. Warga bahkan mengaku terpaksa membeli air galon dari wilayah Daruba untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga Kolorai, Ical, mengatakan abrasi di desanya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat, 14 Agustus 2026, jarak antara sejumlah permukiman warga dengan garis pantai kini semakin dekat.
“Dulu jarak rumah warga dan fasilitas umum dengan bibir pantai sekitar 20 meter. Sekarang tinggal kurang lebih 4 meter,” ujar Ical.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin membahayakan warga ketika gelombang tinggi terjadi. Air laut dapat dengan mudah mencapai halaman hingga mendekati permukiman.
Tidak hanya mengancam rumah dan fasilitas umum, abrasi juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Intrusi air laut disebut membuat air sumur warga berubah menjadi asin sehingga tidak lagi layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kami sudah tidak lagi mendapatkan air bersih karena air laut sudah tercampur dengan sumber air tawar. Kami terpaksa pergi ke Daruba untuk membeli air galon,” katanya.
Ancaman abrasi semakin diperparah dengan rusaknya bangunan pemecah ombak atau breakwater yang dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sekitar tahun 2007–2008.
Warga menyebut kondisi bangunan tersebut saat ini mengalami kerusakan parah, bahkan diperkirakan mencapai sekitar 90 persen. Akibatnya, perlindungan terhadap permukiman dari hantaman gelombang laut dinilai sudah tidak maksimal.
Ical mengatakan persoalan abrasi di Desa Kolorai bukan merupakan masalah baru. Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar 12 tahun, namun hingga kini warga belum melihat adanya penanganan berkelanjutan dari pemerintah daerah.
“Sudah bertahun-tahun, tetapi pemerintah daerah belum memperhatikan kondisi Desa Kolorai. Kami berharap ada langkah nyata karena ini menyangkut keselamatan dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi abrasi, kerusakan pemecah ombak, serta dampaknya terhadap sumber air bersih masyarakat.
Selain itu, pemerintah diharapkan segera membangun kembali infrastruktur perlindungan pantai yang lebih kuat dan disesuaikan dengan karakteristik pesisir Desa Kolorai.
“Kalau penghalang ombak tidak segera dibangun, kami khawatir Desa Kolorai semakin tergerus dan dalam jangka panjang bisa kehilangan daratan,” tegas Ical.
Warga berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius pemerintah daerah dan instansi teknis terkait. Mereka meminta penanganan dilakukan sejak dini sebelum abrasi menyebabkan kerusakan lebih parah terhadap rumah, fasilitas umum, maupun sumber penghidupan masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai terkait langkah konkret penanganan abrasi dan persoalan air bersih di Desa Kolorai.
Reporter: FH
Editor: Redaksi
RADAR NUSANTARA 7.COM






