PROMOSI MEDIA : RadarNusantara7.com siap menjadi mitra publikasi terpercaya | Terima pemasangan iklan | Advertorial | Kerjasama media
20 April 2026
IMG-20260130-WA0043.jpg


Radar Nusantara7.com – KOTA BATU, Jawa Timur — Band underground beraliran punk rock, Brain Wash, asal Kota Batu, Jawa Timur, terus menunjukkan eksistensinya dengan menyuarakan aspirasi, kritik sosial, serta realitas kehidupan sehari-hari melalui karya musik mereka.

Mengusung slogan “Theraphy Syaraf Punk Rock”, Brain Wash menjadikan musik sebagai medium perlawanan sekaligus terapi sosial.


Tema kritik sosial dan dinamika kehidupan sehari-hari kerap mewarnai syair serta lirik lagu band yang digawangi tiga personel ini. Brain Wash diperkuat oleh Eko Sabdianto (Kurowo) sebagai vokalis sekaligus gitaris, Agus Adianto (Kentir) di posisi drum, serta Zulkifli (Sinting) sebagai bassist.


Dengan total delapan lagu yang telah digarap, Brain Wash menegaskan sikap bermusik mereka yang dikenal konsisten, jujur, keras, dan berani dalam bersuara. Alih-alih sekadar mengejar popularitas, band ini memilih tetap setia pada karakter punk rock yang sarat pesan dan sikap.


Menariknya, meski dikenal sebagai band pendatang baru di skena punk Kota Batu, Brain Wash justru disebut sebagai “produk lama”. Sebutan itu merujuk pada latar belakang para personelnya yang telah puluhan tahun hidup dan tumbuh dalam kultur punk.
Terinspirasi Pengkhianatan Persahabatan
Salah satu lagu Brain Wash berjudul “Teman Bang menjadi sorotan karena liriknya yang satir dan lugas.

Lagu tersebut terinspirasi dari kisah persahabatan yang berujung pada pengkhianatan. Dengan tempo cepat dan distorsi khas punk rock, lagu ini mampu menyihir penikmat musik underground.


Kurowo menjelaskan bahwa lagu tersebut merupakan refleksi pengalaman pribadinya.
“Lagu Teman Bang** berbicara tentang persahabatan yang berubah menjadi permusuhan. Saat itu kami berkomitmen menjalin persahabatan selamanya, namun justru berakhir dengan penghindaran, fitnah, dan pembunuhan karakter melalui isu-isu negatif,” ujar Kurowo kepada awak media, Kamis (29/1/2026).


Siap Masuk Dapur Rekaman
Dalam waktu dekat, Brain Wash berencana masuk dapur rekaman sekaligus melaunching sejumlah lagu baru.


“Jika seluruh materi lagu sudah siap, tentu akan segera kami launching. Tapi kami juga harus membagi waktu antara bekerja dan bermusik,” ungkap Kurowo.
Agus Adianto menambahkan, saat ini band masih mematangkan beberapa lagu yang akan direkam.
“Di tengah kesibukan, kami tetap rutin latihan untuk mematangkan materi. Ada juga tambahan lagu baru yang pastinya lebih easy listening,” ujarnya.


Senada, Zulkifli menegaskan komitmen bermusik tetap dijaga meski para personel memiliki tanggung jawab masing-masing.
“Kami tetap eksis bermusik, tapi juga harus pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, terutama anak dan istri,” tandasnya.


Musik sebagai Perlawanan dan Empati
Sebagai informasi, lagu-lagu Brain Wash merupakan bentuk kritik terbuka terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Mereka juga menyoroti isu bullying, intimidasi, serta penghakiman sosial yang kerap dibungkus dengan klaim kebenaran, sementara empati dan akal sehat justru terabaikan.


Bagi Brain Wash, musik bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menyampaikan aspirasi, keluh kesah, isi hati, sikap, dan ideologi. Melalui karya-karyanya, Brain Wash ingin menjadi penyemangat—bukan optimisme kosong—melainkan suara perlawanan bagi mereka yang terus bertahan meski ditekan keadaan dan ketidakadilan.


Dengan tetap membumi dan tidak terjebak idealisme sempit, Brain Wash berharap musik punk rock bisa menjadi pintu masuk bagi pendengar baru untuk mengenal dan memahami esensi punk yang sesungguhnya.


Sumber: Yulinda
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *