PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Screenshot_2026-07-09-15-16-55-452_com.whatsapp.w4b-edit

Radar nusantara7.com//Morotai, 9 Juli 2026 – Pertandingan cabang olahraga karate nomor kumite -42 kilogram putri pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XII Maluku Utara menuai kontroversi. Kontingen tuan rumah Kabupaten Pulau Morotai melayangkan protes terhadap kepemimpinan wasit saat atlet Morotai, Shiva, menghadapi atlet Kota Ternate pada babak semifinal.

Perwakilan kontingen sekaligus pelatih, Risky Ambarak, menilai terdapat sejumlah keputusan wasit yang janggal dan merugikan atlet Morotai, terutama pada detik-detik akhir pertandingan.

Pada detik-detik terakhir ada beberapa poin yang seharusnya menjadi milik atlet Morotai, tetapi tidak diberikan. Sebaliknya, poin justru diberikan kepada atlet Kota Ternate. Padahal pukulan tersebut menurut kami tidak mengenai sasaran secara sah sehingga seharusnya tidak dinilai sebagai poin,” ujar Risky.

Ia juga menyoroti keputusan wasit ketika Shiva melepaskan tendangan ke arah kepala yang dinilai layak memperoleh ippon. Namun, pada momen yang hampir bersamaan, wasit justru memberikan pelanggaran kepada atlet Morotai.

Menurut Risky, berdasarkan peraturan karate, apabila terjadi wakarete atau penghentian pertandingan yang bersamaan dengan pelaksanaan teknik, wasit seharusnya hanya menghentikan pertandingan sementara tanpa memberikan pelanggaran.

“Yang terjadi justru atlet Morotai diberikan pelanggaran. Menurut kami keputusan tersebut sangat janggal dan tidak sesuai dengan mekanisme pertandingan,” tambahnya.

Selain itu, kontingen Morotai menilai terdapat beberapa teknik yuko yang seharusnya menghasilkan poin, namun tidak diberikan oleh dewan juri.

Risky menjelaskan, Shiva sempat unggul 8-6 saat pertandingan menyisakan sekitar 14 hingga 16 detik. Namun menjelang laga berakhir skor menjadi imbang dan kemenangan diberikan kepada atlet Kota Ternate karena unggul senshu (keunggulan poin pertama).

Menurutnya, apabila keputusan-keputusan tersebut sesuai aturan, peluang Shiva untuk melaju ke final bahkan meraih medali emas sangat terbuka. Terlebih, Shiva merupakan atlet berprestasi yang sebelumnya berhasil meraih medali emas pada kejuaraan di Johor, Malaysia.

Kontingen Morotai juga menyoroti sikap pelatih Kota Ternate yang dinilai melakukan protes berlebihan hingga memukul coach box, berteriak, dan maju ke area pertandingan. Padahal, berdasarkan hasil technical meeting, tindakan tersebut seharusnya dikenai sanksi.

Selain itu, ketiadaan fasilitas Video Review (VR) juga menjadi perhatian. Menurut mereka, penggunaan VR penting untuk memastikan setiap keputusan wasit dapat dievaluasi secara objektif.

Usai pertandingan, perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Morotai menyampaikan keberatan kepada panitia atas keputusan yang dinilai tidak adil. Kontingen Morotai menegaskan bahwa mereka tidak meminta perlakuan khusus sebagai tuan rumah, melainkan hanya menginginkan pertandingan berjalan sesuai aturan dan menjunjung tinggi prinsip fair play.

“Kalau memang poin, berikan poin. Kalau memang pelanggaran, berikan pelanggaran. Tetapi jika bukan poin atau bukan pelanggaran, jangan dipaksakan. Kami hanya menginginkan pertandingan dipimpin secara adil,” tegas Risky.

Hingga berita ini diterbitkan, panitia pelaksana maupun perangkat pertandingan belum memberikan tanggapan resmi atas keberatan yang disampaikan kontingen Kabupaten Pulau Morotai terkait jalannya pertandingan semifinal kumite -42 kilogram putri tersebut.

Sumber:tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *