Bojonegoro || Radar Nusantara 7.com – Tradisi membawa berkat atau nasi berkatan dari rumah masing-masing masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat. Tradisi tersebut bukan sekadar membawa makanan untuk dibagikan, namun menjadi wujud nyata semangat gotong royong, kebersamaan, serta rasa syukur kepada Allah SWT.
Seperti yang dilakukan warga Lingkungan RT 12 RW 02, Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Warga menggelar kegiatan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H di Mushola Al-Mujahidin, lingkungan setempat, pada Sabtu malam (6/9/2026).
Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan diikuti antusias oleh warga. Selain diisi dengan tahlil bersama, peringatan Maulid Nabi tersebut juga menghadirkan Ustaz Lukmanul Hakim dari Trucuk untuk memberikan tausiyah kepada para jamaah.
Ketua RT 12, Rita Puji Susanti, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga untuk bersama-sama memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Malam ini lingkungan RT 12 mengadakan tahlil bersama untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kami juga menghadirkan Ustaz Lukmanul Hakim dari Trucuk untuk memberikan tausiyah kepada warga,” ujar Rita.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Lukmanul Hakim menyampaikan sejumlah kisah tentang perjuangan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan ajaran Islam.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya memperingati Maulid Nabi secara seremonial, tetapi juga menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, berbagai sifat mulia Nabi Muhammad SAW seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, serta kepedulian terhadap sesama hendaknya terus diteladani dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Suasana kebersamaan semakin terasa ketika warga datang ke mushola dengan membawa berkat dari rumah masing-masing. Menariknya, jumlah berkat yang dibawa warga pun beragam, sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga.
Ada warga yang membawa tiga berkat, bahkan ada pula yang membawa hingga lima berkat untuk kemudian dikumpulkan dan dibagikan kembali secara merata kepada jamaah yang hadir.
Tradisi tersebut menjadi gambaran sederhana bagaimana nilai gotong royong masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Tidak ada paksaan mengenai jumlah yang harus dibawa, karena semuanya dilakukan secara sukarela sesuai kemampuan masing-masing.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, berkat yang telah dikumpulkan kemudian dibagikan kepada para jamaah secara merata.
Bagi warga RT 12, tradisi tersebut bukan hanya persoalan makanan, tetapi juga memiliki makna sosial dan spiritual. Berkat menjadi simbol berbagi, rasa syukur, serta kepedulian antarwarga dalam momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Maulid Nabi di Mushola Al-Mujahidin pun berlangsung dalam suasana guyub dan penuh kekeluargaan. Warga berharap kegiatan semacam ini dapat terus dipertahankan sebagai sarana mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
(Red/Radar Nusantara 7.com)






