MOROTAI, Radar Nusantara 7 – Pembangunan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Pulau Morotai yang dikerjakan oleh PT Wahana Demensia Indonesia hingga Kamis (18/6/2026) masih belum rampung sepenuhnya. Padahal proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025 dengan nilai kontrak mencapai Rp15,3 miliar tersebut telah melewati tiga kali adendum atau perpanjangan waktu pekerjaan.
Berdasarkan pantauan awak media Radar Nusantara 7 di lokasi proyek, aktivitas pekerjaan masih berlangsung. Sejumlah pekerja terlihat menyelesaikan beberapa bagian bangunan, termasuk pemasangan plafon di sejumlah ruangan yang belum tuntas. Selain itu, beberapa item pekerjaan fisik lainnya juga masih dalam tahap penyempurnaan dan perbaikan.
Sejumlah material konstruksi yang dibutuhkan untuk penyelesaian proyek diketahui masih dalam proses pengiriman dari luar daerah. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan proyek strategis sektor kesehatan itu belum dapat diselesaikan sesuai target yang telah ditentukan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai, dr. Diana Pinangkaa selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), mengakui adanya kendala dalam proses penyelesaian pekerjaan. Menurutnya, hambatan utama berasal dari ketersediaan material yang harus didatangkan dari Pulau Jawa karena tidak tersedia di wilayah Morotai.
“Saya sebagai KPA selalu menekankan kepada kontraktor untuk segera mempercepat pekerjaan. Hanya saja, kendalanya karena material harus dipesan dari Jawa, bukan tersedia di Morotai, sehingga proses penyelesaian menjadi terhambat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan laporan dari pihak pelaksana lapangan, keterlambatan pekerjaan bukan disebabkan penghentian aktivitas konstruksi, melainkan karena menunggu kedatangan material tertentu yang menjadi bagian penting dalam penyelesaian bangunan.
“Kalau semua material tersedia di Morotai, kemungkinan hal seperti ini tidak akan terjadi,” katanya.
Meski demikian, pekerjaan disebut tetap berjalan sambil menunggu pengiriman material tambahan dari luar daerah.
“Pekerjaan tetap berjalan sambil menunggu bahan lainnya datang,” tambahnya.
Dinas Kesehatan juga mengaku terus melakukan pengawasan terhadap progres proyek tersebut. Bahkan, pihak kontraktor telah diminta untuk menuntaskan seluruh pekerjaan dalam waktu dekat agar fasilitas kesehatan tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Kontraktor sudah kami tekankan untuk berusaha menyelesaikan di bulan Juli selesai,” tegas Diana.
Meski telah ada penjelasan dari pihak KPA, keterlambatan proyek yang telah mengalami tiga kali adendum mulai menjadi sorotan publik. Sejumlah kalangan menilai bahwa persoalan pengadaan material seharusnya telah diantisipasi sejak tahap perencanaan, mengingat kondisi geografis Morotai sebagai daerah kepulauan yang sangat bergantung pada distribusi logistik dari luar daerah.
Publik juga mempertanyakan efektivitas pengawasan dan langkah mitigasi yang dilakukan sejak awal ketika potensi keterlambatan mulai terlihat. Sebab, proyek bernilai Rp15,3 miliar tersebut merupakan fasilitas penting yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di Pulau Morotai.
Di sisi lain, masyarakat berharap proses percepatan penyelesaian proyek tidak mengabaikan aspek kualitas pekerjaan. Bangunan yang nantinya digunakan sebagai pusat layanan laboratorium kesehatan harus memenuhi standar teknis yang baik agar dapat memberikan manfaat maksimal dalam jangka panjang.
Hingga berita ini diterbitkan, pekerjaan pembangunan Labkesmas Kabupaten Pulau Morotai masih terus berlangsung sambil menunggu kedatangan sejumlah material tambahan dari luar daerah. Publik kini menanti realisasi komitmen kontraktor dan pemerintah daerah untuk menuntaskan proyek tersebut sesuai target yang telah ditetapkan pada Juli 2026.
Sumber:fata
Editor:Radar Nusantara 7)






