PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
Screenshot_2026-08-31-14-26-47-990_com.ss.android.ugc.trill-edit

Radar nusantara 7.com//Morotai — Pelaksanaan shalat Istisqa di Kabupaten Pulau Morotai diwarnai khutbah keagamaan yang menyoroti kondisi kemarau panjang sekaligus mengajak umat melakukan introspeksi. Khotib Rajak Lotar mengingatkan jamaah agar memperbanyak istighfar, meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, serta kembali memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Dalam khutbahnya, Rajak mengawali dengan mengingatkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT dan memiliki hikmah yang perlu direnungkan.

Ia mengutip QS. Al-Qamar ayat 49 yang menjelaskan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ketentuan dan takdir Allah SWT.

Menurut Rajak, kondisi kemarau panjang yang dirasakan masyarakat harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, baik terhadap kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial dan keagamaan.

“Tidak ada suatu kejadian pun yang ditakdirkan Allah melainkan pasti ada hikmahnya,” demikian pesan Rajak dalam khutbahnya.

Dalam naskah khutbah juga disebutkan kondisi berkurangnya curah hujan yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino. Khotib merujuk pada informasi lembaga seperti World Meteorological Organization (WMO) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) terkait perkembangan fenomena tersebut serta dampaknya terhadap musim kemarau.

Namun, Rajak menegaskan bahwa persoalan kemarau tidak semata-mata dilihat dari sisi fenomena alam. Dari perspektif keagamaan, kondisi tersebut harus menjadi bahan introspeksi agar manusia memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu poin tegas dalam khutbah Rajak adalah mengenai perilaku curang dan pengkhianatan terhadap amanah.

Mengutip QS. Asy-Syura ayat 30, ia mengingatkan jamaah bahwa musibah yang menimpa manusia dapat menjadi peringatan atas perbuatan yang dilakukan, meskipun Allah SWT juga mengampuni sebagian besar kesalahan manusia.

Rajak menyoroti praktik kecurangan dalam berbagai bidang, termasuk dunia bisnis dan perdagangan. Ia mengingatkan persoalan kecurangan dalam timbangan maupun praktik menaikkan harga secara tidak semestinya.

Menurutnya, sifat curang tidak hanya berpotensi dilakukan pedagang, tetapi dapat terjadi pada berbagai profesi dan lingkungan kehidupan.

“Pejabat yang mengorupsi harta benda berarti dia telah berbuat curang terhadap rakyatnya, sebab dia mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya,” tegas Rajak dalam khutbahnya.

Ia juga menyinggung kedisiplinan aparatur. Pegawai yang masuk kantor maupun meninggalkan tempat kerja sebelum waktunya tanpa alasan yang dibenarkan dinilai telah mengabaikan amanah pekerjaan.

Pesan serupa disampaikan kepada kalangan pendidik. Guru diingatkan agar menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru serta memberikan teladan yang baik kepada siswa dan mahasiswa.

Sementara orang tua diminta tidak mengabaikan pendidikan agama anak-anaknya dan tidak membiarkan mereka tumbuh tanpa pembinaan moral dan keagamaan.

Selain persoalan kecurangan, Rajak juga menyoroti kewajiban zakat dan pentingnya sedekah.

Ia mengingatkan orang-orang yang memiliki kemampuan secara ekonomi agar tidak mengabaikan kewajiban zakat. Dalam perspektif keagamaan yang disampaikan dalam khutbah, keengganan menunaikan zakat dan kurangnya kepedulian terhadap sesama perlu menjadi bahan introspeksi umat.

Dalam naskah khutbah juga dikutip riwayat yang mengaitkan tidak ditunaikannya zakat dengan tertahannya hujan.

Karena itu, jamaah tidak hanya diajak memohon turunnya hujan, tetapi juga memperbaiki perilaku, meningkatkan kepedulian sosial, memperbanyak sedekah, serta menunaikan kewajiban agama.

Rajak menjelaskan bahwa shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon pertolongan Allah SWT ketika menghadapi kekeringan.

Ia mengingatkan teladan Rasulullah SAW dalam melaksanakan shalat Istisqa dengan penuh kerendahan hati dan permohonan kepada Allah SWT.

Jamaah kemudian diajak memperbanyak istighfar dan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat, bukan hujan yang justru menimbulkan kerusakan.

Doa yang dipanjatkan juga memohon agar hujan menjadi rahmat bagi manusia, hewan ternak, serta menghidupkan kembali wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan.

Menjelang akhir khutbah, Rajak kembali mengajak jamaah melakukan introspeksi dan memperbanyak taubat kepada Allah SWT.

Ia menyampaikan bahwa ketika manusia menghadapi kesulitan, termasuk kemarau panjang, umat tidak cukup hanya mengeluhkan keadaan, tetapi perlu memperbanyak doa dan memperbaiki diri.

“Jika musibah itu dipicu dengan perbuatan dosa dan maksiat, maka agar musibah tersebut berakhir, salah satunya adalah bertaubat kepada Allah SWT,” pesan Rajak.

Khutbah tersebut menempatkan shalat Istisqa bukan sekadar sebagai ritual memohon hujan, tetapi juga sebagai momentum untuk mengoreksi perilaku manusia.

Di tengah kondisi kemarau, Rajak mengajak masyarakat Morotai memperkuat ikhtiar, menjaga kejujuran, menjalankan amanah, menunaikan zakat dan sedekah, memperbaiki hubungan sosial, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dengan demikian, permohonan hujan diharapkan tidak berhenti pada doa, tetapi diiringi perubahan sikap dan perilaku sebagai bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kondisi kekeringan._(fhm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *