PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
ADVERTISEMENT
Iklan Radar Nusantara
IMG-20260524-WA0023(1)

Radar nusantara 7.com// Morotai, Sabtu 24 Mei 2026 — Distribusi BBM jenis Mita di Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai, kembali menjadi sorotan publik setelah muncul berbagai keluhan masyarakat terkait pembagian kuota yang dinilai tidak merata di sejumlah desa. Salah satu wilayah yang paling banyak disorot adalah Desa Tawakali, yang disebut mengalami pengurangan jatah distribusi dibanding sebelumnya.

Menanggapi polemik tersebut, salah satu pengelola pangkalan BBM di Kecamatan Morotai Utara, Afirin Liem, akhirnya memberikan klarifikasi kepada awak media. Ia menegaskan bahwa proses penyaluran BBM yang dilakukan pihak pangkalan selama ini tetap berjalan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

Menurut Afirin, pangkalan yang dikelolanya bertanggung jawab menyalurkan BBM jenis Mita ke empat desa, yakni Desa Bido, Desa Yao, Desa Tawakali, dan Desa Tanjung Saleh. Namun pada distribusi tanggal 18 Mei 2026 lalu, terjadi penurunan kuota yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Distribusi tetap kami lakukan sesuai prosedur. Hanya saja memang di Desa Tawakali terjadi fluktuasi kuota. Biasanya satu desa bisa menerima sekitar 2.000 liter, namun sekarang hanya sekitar 1.200 hingga 1.300 liter dari jumlah keluarga yang sudah ditentukan dinas terkait,” ujar Afirin.

Ia menjelaskan, untuk desa lain seperti Bido, Yao, dan Tanjung Saleh, distribusi BBM masih berjalan relatif aman dan terkendali. Akan tetapi, berkurangnya pasokan dari agen penyalur berdampak langsung terhadap jumlah BBM yang diterima masyarakat di tingkat desa.

Afirin mengungkapkan bahwa pada tahun sebelumnya kuota BBM untuk wilayah Kecamatan Morotai Utara dapat mencapai 10 ton bahkan lebih. Namun pada tahun 2026 ini, kuota yang diterima pangkalan hanya sekitar 5 ton, sehingga distribusi harus disesuaikan dengan kondisi stok yang tersedia.

“Kami dari pangkalan sering menjadi sasaran dugaan masyarakat, padahal kuota BBM jenis Mita ini ditentukan langsung oleh agen. Kalau dulu kuotanya bisa sampai 10 ton, maka setiap desa bisa menerima 1.500 sampai 2.000 liter. Tetapi sekarang karena hanya menerima sekitar 5 ton, otomatis distribusi harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa pada distribusi terakhir di Desa Tawakali terdapat sekitar 10 kupon milik masyarakat yang belum dapat terlayani karena stok BBM telah habis sebelum seluruh kupon terpenuhi.

“Untuk Desa Tawakali memang ada kurang lebih 10 kupon yang kami kembalikan karena BBM sudah habis. Itu murni karena keterbatasan kuota yang kami terima,” tambah Afirin.

Meski demikian, pihak pangkalan memastikan telah menerima informasi dari agen penyalur bahwa kuota BBM jenis Mita untuk Kecamatan Morotai Utara pada bulan depan direncanakan kembali distabilkan agar distribusi dapat berjalan lebih merata.

“Untuk bulan depan kami sudah menerima konfirmasi dari agen bahwa kuota BBM jenis Mita di Kecamatan Morotai Utara akan distabilkan. Karena itu, beberapa desa yang sebelumnya belum puas terkait distribusi kami, bulan depan nanti akan kami stabilkan kembali, khususnya Desa Tawakali yang sempat kami kembalikan kupon masyarakatnya,” tuturnya.

Afirin berharap dinas terkait dapat memperketat pengawasan terhadap pihak agen penyalur agar distribusi BBM di tingkat pangkalan tidak lagi memicu polemik di tengah masyarakat. Menurutnya, pangkalan hanya menjalankan penyaluran berdasarkan kuota yang diterima dan tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kami berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap agen. Jangan sampai pangkalan terus yang disalahkan masyarakat, karena pada dasarnya kami hanya menyalurkan sesuai kuota yang diterima. Untuk harga HET sendiri masih tetap sesuai ketentuan dari dinas terkait,” pungkasnya.

Reporter:fata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *