Radar nusantara 7.Com // Bojonegoro — Nama “Mbondol” yang melekat pada salah satu wilayah di Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, menyimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan masa pendudukan dan proses pembentukan permukiman warga pada era kolonial hingga awal kemerdekaan.
Istilah “Mbondol” sendiri berasal dari bahasa Jawa setempat yang bermakna “berhenti sampai di situ” atau “tidak tembus”, yang menggambarkan kondisi geografis wilayah tersebut pada masa lampau sebagai kawasan ujung atau jalan buntu yang terisolasi dari akses utama.
Pada tahun 1942, saat masa pendudukan Jepang, wilayah yang kini dikenal sebagai Mbondol masih berupa kawasan hutan dan tanah belantara. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu lokasi yang dibuka melalui program transmigrasi lokal yang digagas oleh pemerintah daerah di masa itu, di bawah kepemimpinan Bupati Bojonegoro, untuk menampung warga yang terdampak kerja paksa Romusha dan kehilangan tempat tinggal.
Pembukaan lahan tersebut menjadi awal terbentuknya permukiman baru di wilayah Sidorejo, termasuk kawasan Mbondol yang secara bertahap dihuni oleh masyarakat dan berkembang menjadi bagian penting dari struktur desa.
Secara administratif, wilayah Sidorejo yang mencakup Mbondol pada awalnya berada di bawah naungan Kecamatan Kapas. Namun, seiring dengan kebijakan pemekaran wilayah dan penataan administrasi pemerintahan daerah, kawasan tersebut kini masuk sepenuhnya dalam wilayah Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro.
Perubahan status administratif tersebut juga sejalan dengan perkembangan infrastruktur dan mobilitas masyarakat yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Kini, kawasan yang dahulu dikenal sebagai wilayah pelosok dan ujung buntu tersebut telah mengalami perkembangan signifikan. Mbondol tidak lagi sekadar dikenal sebagai area terisolasi, melainkan telah tumbuh menjadi salah satu titik persimpangan dan pusat aktivitas ekonomi serta sosial warga di Desa Sidorejo.
Sejumlah warga menyebut, transformasi wilayah ini menjadi bukti nyata perubahan sosial dan pembangunan desa yang terus berkembang, dari kawasan hutan dan terpencil menjadi lingkungan permukiman yang lebih terbuka dan produktif hingga saat ini.
Sumber: tim Redaksi






