MOROTAI, Radar Nusantara 7.com — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat se-Cabang Pulau Morotai resmi membuka kegiatan training di Aula SMA Negeri 1 Pulau Morotai, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Terbinanya Kepribadian Muslim yang Berkualitas Akademis, Sadar akan Fungsi dan Peran dalam Berorganisasi serta Kewajibannya sebagai Kader Umat dan Kader Bangsa.” Pembukaan berlangsung khidmat dan diikuti para calon kader HMI.
Ketua Umum HMI Cabang Pulau Morotai, Afrizal Kharie, dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberadaan HMI hingga saat ini tidak terlepas dari proses panjang serta perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi perjuangan organisasi sejak HMI berdiri pada 1947.
Menurut Afrizal, keberlangsungan HMI di tengah perubahan zaman tidak cukup hanya dilihat dari usia organisasi, tetapi juga dari kualitas kader yang mampu dilahirkan melalui proses pengkaderan.
“HMI telah berdiri sejak 1947 dan hingga saat ini, alhamdulillah, tetap bertahan melalui berbagai dinamika serta tantangan zaman. Apa yang kita rasakan hari ini merupakan buah dari perjuangan para pendahulu dan senior HMI yang telah meletakkan dasar perjuangan organisasi ini,” ujar Afrizal.
Ia menegaskan bahwa pengkaderan merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang kader HMI. Proses tersebut, kata dia, tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi ruang untuk membentuk karakter, meningkatkan intelektualitas, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap tanggung jawab sosial.
Afrizal menyebut, menjadi kader HMI bukan sekadar mengenakan identitas organisasi. Lebih dari itu, kader dituntut mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai kader umat dan kader bangsa.
Karena itu, ia meminta setiap kader mengikuti proses serta jenjang pengkaderan dengan serius sebagai bagian dari upaya membangun kapasitas dan kualitas diri.
Kepada para calon kader, Afrizal menyampaikan bahwa mereka merupakan bagian dari mahasiswa yang memilih mengambil ruang belajar dan berproses melalui HMI.
“Kalian merupakan orang-orang yang terpilih dari sekian banyak mahasiswa yang hadir dan menempuh pendidikan di Universitas Pasifik Morotai. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini untuk meluruskan niat dan menentukan tujuan dalam menjalani proses di rumah perjuangan kita, yaitu HMI,” ujarnya.
Menurutnya, HMI memiliki sejarah panjang karena kontribusi para pendiri dan seniornya terhadap bangsa dan negara. Namun, selain sejarah tersebut, HMI juga memiliki tradisi gagasan yang harus terus dipelihara dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
“HMI bukan hanya dikenal karena para pendiri dan seniornya yang telah memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara, melainkan gagasan yang dimiliki HMI seperti gagasan keislaman, keindonesiaan, serta gagasan kebangsaan yang terus berkembang mengikuti zaman,” katanya.
Afrizal juga mengingatkan bahwa perubahan zaman menghadirkan tantangan baru yang dapat memengaruhi proses kaderisasi HMI maupun gerakan mahasiswa secara umum.
Menurutnya, perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, serta perubahan sosial yang berlangsung cepat menuntut kader HMI memiliki kemampuan membaca keadaan.
“Perkembangan zaman yang begitu cepat menjadi tantangan tersendiri bagi kader umat dan kader bangsa. Karena itu, kader HMI harus mampu membaca perubahan zaman, bukan hanya menjadi penonton. Kita harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang muncul di tengah masyarakat dengan gagasan, pengetahuan, integritas, dan keberanian untuk mengambil peran,” tambahnya.
Ia juga menyoroti masih adanya kecenderungan sebagian generasi muda yang memandang pendidikan sebatas formalitas.
“Hari ini kita melihat masih ada generasi muda yang menjadikan pendidikan hanya sebagai formalitas. Padahal, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membaca persoalan bangsa,” katanya.
Meski demikian, Afrizal berharap HMI dapat menjadi ruang yang tidak hanya melahirkan kader aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan akademik, karakter, kesadaran sosial, serta keberanian menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan publik.
Ia menegaskan bahwa proses pengkaderan tidak boleh berhenti pada terpenuhinya tahapan organisasi semata.
“Proses pengkaderan bukan sekadar memenuhi tahapan organisasi, tetapi merupakan proses untuk membentuk manusia yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, keilmuan, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Afrizal meminta seluruh calon kader mengikuti setiap tahapan training dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Ia juga mengajak peserta melihat HMI bukan hanya sebagai organisasi kemahasiswaan, tetapi sebagai ruang pembentukan diri sekaligus rumah perjuangan untuk mempersiapkan kader yang mampu memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan daerah.
“Jangan melihat HMI hanya sebagai organisasi, tetapi lihatlah HMI sebagai rumah perjuangan dan ruang belajar untuk mempersiapkan diri menjadi bagian dari solusi bagi umat, bangsa, dan daerah,” pungkasnya.
(Red/FH)
Radar Nusantara 7.com






