Radar nusantara7.com//Surabaya – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur mengonfirmasi adanya temuan satu pasien yang dinyatakan positif terinfeksi Hantavirus dan saat ini menjalani perawatan di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Temuan tersebut menjadi perhatian dunia kesehatan sekaligus memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat terkait penyebaran penyakit yang tergolong jarang ditemukan di Indonesia tersebut.
Meski demikian, pihak Dinkes Jawa Timur meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik berlebihan. Pemerintah daerah bersama rumah sakit dan instansi kesehatan terkait disebut telah melakukan langkah-langkah penanganan, pemantauan, serta investigasi epidemiologi guna memastikan kondisi tetap terkendali.
Hantavirus merupakan virus yang umumnya ditularkan melalui paparan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat seperti tikus. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi virus tersebut, terutama di lingkungan yang kurang bersih atau memiliki populasi tikus yang tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur menjelaskan bahwa pasien yang teridentifikasi positif saat ini mendapatkan penanganan medis intensif di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Selain itu, tim kesehatan juga melakukan penelusuran guna mengetahui kemungkinan sumber paparan virus.
Pihak rumah sakit bersama Dinkes juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien serta memastikan prosedur penanganan dilakukan sesuai standar medis dan protokol kesehatan yang berlaku.
Munculnya kasus ini kemudian menjadi sorotan publik, terutama karena Hantavirus masih tergolong penyakit yang jarang terdengar di masyarakat Indonesia. Sejumlah warga mengaku khawatir akan potensi penyebaran penyakit tersebut, terlebih setelah informasi mengenai pasien positif beredar luas di media sosial.
Namun para ahli kesehatan menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat indikasi penyebaran luas di Jawa Timur. Masyarakat diminta lebih fokus pada langkah pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya, serta menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Di sisi lain, pengamat kesehatan masyarakat menilai temuan ini menjadi pengingat pentingnya penguatan sistem deteksi dini penyakit menular serta peningkatan edukasi kepada masyarakat terkait pola hidup bersih dan sehat.
Dinas Kesehatan Jawa Timur juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti perkembangan resmi dari pemerintah maupun institusi kesehatan terpercaya.
Hingga berita ini diturunkan, proses observasi dan penanganan terhadap pasien masih terus berlangsung, sementara pihak terkait melakukan langkah antisipasi guna mencegah kemungkinan penyebaran lebih lanjut.
Sumber: Dinkes Provinsi Jawa Timur
Editor: Redaksi






