Radar Nusantara7.com – Bojonegoro – Dalam upaya menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani, Kelompok Tani Setyo Budi Utomo Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro menggelar praktik pembuatan dekomposer cair pada Minggu (15/2/2026). Kegiatan yang dilaksanakan kemarin tersebut menjadi salah satu langkah konkret petani dalam mendukung pertanian berkelanjutan.
Praktik pembuatan dekomposer dilakukan secara mandiri oleh anggota kelompok tani dengan pendampingan langsung dari petugas lapangan (PPL) dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro. Pendampingan ini bertujuan memastikan proses fermentasi berjalan optimal sehingga hasil dekomposer yang dihasilkan benar-benar efektif saat diaplikasikan di lahan pertanian.
Moch. Minan selaku PPL DKPP Bojonegoro menjelaskan bahwa dekomposer cair berfungsi untuk mempercepat proses penguraian sisa-sisa bahan organik, seperti jerami padi yang tertinggal setelah panen. Dengan bantuan mikroorganisme, sisa tanaman tersebut dapat lebih cepat terurai menjadi unsur hara yang siap diserap tanaman pada musim tanam berikutnya.
“Melalui penggunaan dekomposer ini, jerami tidak perlu lagi dibakar. Selain ramah lingkungan, tanah juga menjadi lebih subur karena kandungan bahan organiknya meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah ini juga dinilai strategis dalam memutus siklus hama dan penyakit tanaman. Sisa tanaman musim sebelumnya kerap menjadi tempat berkembangnya organisme pengganggu tanaman (OPT).
Dengan proses dekomposisi yang lebih cepat dan sempurna, potensi serangan hama dan penyakit dapat ditekan sejak awal.
Para petani menyambut positif kegiatan tersebut. Selain dapat menghemat biaya produksi karena tidak bergantung pada produk pabrikan, metode ini juga memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan desa.
Ketua Kelompok Tani Setyo Budi Utomo menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari komitmen petani Desa Luwihaji untuk terus belajar dan beradaptasi menghadapi tantangan pertanian modern, termasuk peningkatan biaya pupuk dan menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
Pihak DKPP Bojonegoro berharap praktik pembuatan dekomposer mandiri ini dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain di berbagai wilayah. Dengan penerapan pertanian berbasis organik yang lebih luas, produktivitas lahan di Kabupaten Bojonegoro diharapkan tetap terjaga sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.
Sumber: Humas
*Editor: Redaksi

