Opini//jakarta – Ada rindu yang tak pernah usai. Ada nama yang selalu disebut dalam doa. Ada sosok yang telah pergi untuk selamanya, namun jejak perjuangannya akan terus hidup di hati kami.
Engkau adalah kakak pertama, seorang putra yang memilih memikul beban keluarga di usia muda. Ketika orang lain menikmati masa mudanya, engkau justru mengorbankan waktu, tenaga, dan impianmu demi membantu kedua orang tua serta memastikan adik-adikmu tetap memiliki harapan untuk masa depan.
Panas yang membakar kulit dan hujan yang membasahi tubuh tak pernah kau hiraukan. Semua kau jalani dengan ikhlas. Tak pernah sekalipun engkau mengeluhkan beratnya hidup atau menceritakan lelahmu kepada siapa pun, bahkan kepada adik-adikmu sendiri. Engkau memilih tersenyum, meski beban yang kau pikul begitu berat.
Masih jelas dalam ingatan, saat engkau mengayuh sepeda ontel berjualan es keliling dari kampung ke kampung. Ketika rezeki sedang sulit, engkau rela menyusuri sungai dan kali untuk mencari katak demi mendapatkan tambahan penghasilan. Bagimu, tidak ada pekerjaan yang hina selama itu halal dan mampu menghidupi keluarga.
Perjalanan hidup kemudian membawamu menjadi seorang sales dan sopir. Semua pekerjaan engkau jalani dengan penuh tanggung jawab. Bukan demi mengejar kemewahan, tetapi demi melihat kedua orang tua tersenyum dan adik-adikmu bisa menjalani hidup dengan lebih baik.
Di balik perjuangan yang luar biasa, engkau tetap dikenal sebagai pribadi yang murah senyum, ramah, sederhana, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tak banyak orang tahu bahwa di balik senyum itu tersimpan begitu banyak luka, pengorbanan, dan tanggung jawab yang kau pendam seorang diri.
Nasihatmu hingga kini masih terngiang di telinga kami.
Seorang laki-laki tidak boleh mudah menyerah dan tidak boleh cengeng, karena seorang laki-laki memikul tanggung jawab yang besar untuk keluarganya.”
Kalimat sederhana itu kini menjadi warisan paling berharga yang engkau tinggalkan. Nasihat yang akan terus menjadi pegangan hidup kami.
Kini waktu telah memisahkan kita. Engkau telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah SWT. Kehadiranmu memang telah tiada, tetapi kasih sayang dan perjuanganmu akan selalu hidup dalam hati kami.
Kini adik-adikmu hanya bisa berdiri di hadapan pusaramu. Menatap namamu yang terukir di batu nisan dengan air mata yang tak mampu lagi dibendung. Kami tak lagi bisa mendengar nasihatmu, melihat senyummu, atau memelukmu seperti dulu. Yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan kerinduan yang tak pernah menemukan ujungnya.
Andai waktu dapat diputar kembali, kami ingin mengucapkan terima kasih lebih banyak atas semua pengorbananmu. Namun kini, doa adalah hadiah terbaik yang dapat kami kirimkan untukmu.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kakak kami. Lapangkanlah alam kuburnya, terangilah tempat peristirahatannya, terimalah seluruh amal ibadah dan perjuangannya sebagai amal saleh, serta tempatkanlah ia di surga-Mu yang paling indah bersama orang-orang yang Engkau cintai. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Engkau memang telah tiada, tetapi perjuanganmu akan selalu hidup dalam setiap langkah kami. Namamu mungkin hanya terukir di batu nisan, namun pengorbananmu telah terukir abadi di dalam hati kami.
“Selamat jalan, Kakak. Terima kasih telah mengajarkan kami arti pengorbanan, keikhlasan, dan cinta tanpa syarat. Semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya.” Aamiin.🤲🤲🤲🤲






