PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
IMG-20261007-WA0091

Pulau Morotai — Pembangunan panggung utama Morotai Festival (Morofest) 2026 di kawasan depan Morotai Mall kini menuai sorotan. Pasalnya ditengah persiapan event tersebut, seorang pemuda dilaporkan mengalami kecelakaan sekitar pukul –06.00 WIT, Rabu (07/10/2026), di area yang kini menjadi lokasi pembangunan panggung.

Sebelumnya dari hasil pantauan media ini pada Selasa (6/10/2026), menunjukkan sejumlah struktur panggung utama Morofest telah berdiri di kawasan depan Morotai Mall, Namun fatalnya pihak panitia penyelenggara Morofest lalai memasang tanda larangan, padahal pekerjaan belum sepenuhnya rampung.

Mirisnya keberadaan panggung tersebut membuat sebagian akses warga terbatas. Termasuk masyarakat yang biasa menggunakan ruas jalan tersebut untuk beraktivitas, berolahraga maupun menuju pasar.

Tragisnya pada Rabu 7 Oktober, seorang pemuda dilaporkan mengalami kecelakaan Tungal menabrak pangung utama morofest,
Menurut pengakuan seorang warga yang bekerja menjaga kawasan Morotai Mall, saat ditemukan korban yang belum diketahui identitasnya ini, suda tergeletak tak sadarkan diri, sementara itu korban diduga berada dalam kondisi mabuk. Warga bersama anggota kepolisian kemudian memberikan pertolongan dan membawa korban untuk mendapatkan penanganan medis.

“Sekitar pukul 06.00 pagi tadi. Kondisi korban seperti mabuk. Kemudian ada anggota yang membantu. Kami berusaha membawa ke puskesmas, tetapi belum ada petugas, sehingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit,” ujar warga tersebut saat dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon.

Menurutnya, korban datang dari arah kawasan CBD menuju kawasan Morotai Mall dengan kecepatan yang diperkirakan cukup tinggi.

“Dia dari arah sana, menuju ke arah Morotai Mall. Kayaknya lajunya cukup kencang sampai motornya masuk di bawah panggung,” katanya.

Sementara itu Nia salah seorang warga pegiat olahraga lari sore sektika diwawancarai pada Selasa 06/10/2026 kemarin. Nia mempertanyakan kepada pihak panitia pelaksana Morotai vestival mengapa pemerintah daerah memilih membangun panggung utama Morofest lebih awal di kawasan tersebut, sementara Morotai telah memiliki panggung yang dapat difungsikan di kawasan CBD

Ia menilai dari sisi lokasi, kawasan CBD dinilai lebih strategis karena berada dekat dengan aktivitas masyarakat dan pusat perdagangan. Penggunaan panggung di kawasan tersebut juga dinilai berpotensi memberikan efek ekonomi langsung bagi pelaku UMKM dan pedagang pasar.

“festival tidak semata-mata menjadi panggung hiburan dan seremonial pemerintah, tetapi juga dapat menjadi ruang perputaran ekonomi masyarakat.” Tandas Nia

Pada waktu yang bersamaan usai dari mewawancarai Nia. Media ini juga menemukan sejumlah mahasiswa yang mengelar orasi ilmiah dikawasan masjid Raya Baiturrahman, dalam bobotan orasi ilmiah tersebut beberapa peserta orasi menyingung kondisi Morotai yang dilanda kebakaran serta kabut asap serta sejumlah kebijakan pemerintah yang belum direalisasi,pada saat melakukan demonstrasi berulang-ulang. Peserta juga mengecam keberadaan pangung utama morofest yang dibangun di tengah-tengah akses warga

Edo, salah satu peserta orasi ilmiah dalam orasi ilmiahnya ia meminta agar pemerintah tidak terlalu larut dalam agenda seremonial ketika persoalan masyarakat masih membutuhkan perhatian pemerintah.

“Pemerintah jangan terlalu terburu-buru membangun panggung utama. Dengan kondisi Morotai sekarang, termasuk kabut asap, kita harus memikirkan hal-hal yang tidak terduga,” katanya.

Disisi lain Edo juga menegaskan pemerintah daerah seharusnya lebih serius memprioritaskan penanganan dampak kemarau dan kebutuhan masyarakat.

“Seharusnya pemerintah lebih fokus meminimalisir dampak kemarau, jangan terlalu fokus pada hal-hal seremonial. Anak-anak sekolah saja sampai diliburkan. Itu memang bagian dari upaya pemerintah, tetapi kondisi seperti ini mestinya menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas,” tegasnya.

Diakhir komentarnya Edo menyampaikan Jangan sampai Morofest hanya meriah di atas panggung, sementara masyarakat yang berada di bawahnya justru harus menanggung dampak dari pilihan lokasi dan pembangunan tersebut. Pungkas edo

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari panitia pelaksana Morofest maupun Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai terkait kosongnya tanda larangan disekitar lokasi pangung, serta alasan pangung diaeral CBD tidak dipakai.(red/fhm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *