PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
ADVERTISEMENT
Iklan Radar Nusantara
IMG-20260602-WA0032

MOROTAI – Museum Perang Dunia II Morotai yang berlokasi di Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, kini kembali berfungsi setelah menjalani rehabilitasi berat dengan anggaran sebesar Rp583 juta. Meski hingga saat ini belum diresmikan secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, museum tersebut telah dibuka dan dapat dikunjungi masyarakat sebagai sarana edukasi sejarah serta destinasi wisata unggulan di daerah itu.

Rehabilitasi museum merupakan bagian dari paket pekerjaan “Rehabilitasi Berat Museum Perang Dunia Kedua Juanga” yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai. Berdasarkan data pengadaan, proyek tersebut memiliki kode tender 10069984000 dengan nilai pagu anggaran sekaligus Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp583.667.000 yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2025.

Pekerjaan konstruksi tersebut kini telah dinyatakan selesai dan hasil rehabilitasinya mulai dimanfaatkan untuk kegiatan kunjungan masyarakat maupun pelajar.

Pantauan di lokasi, bangunan museum mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding sebelumnya. Wajah baru museum terlihat lebih representatif dengan konsep yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai historis yang melekat sebagai salah satu saksi penting perjalanan Perang Dunia II di kawasan Pasifik.

Bagian depan bangunan kini tampak lebih tertata dengan dominasi warna krem yang dipadukan atap berwarna merah marun. Di beberapa sisi bangunan juga terdapat relief bertema peperangan yang semakin memperkuat identitas museum sebagai pusat dokumentasi sejarah dan penyimpanan berbagai artefak maupun informasi terkait Perang Dunia II di Pulau Morotai.

Sebagai salah satu wilayah yang memiliki peran strategis dalam operasi militer Sekutu di kawasan Pasifik pada masa Perang Dunia II, Pulau Morotai menyimpan banyak jejak sejarah yang memiliki nilai penting bagi dunia pendidikan maupun pariwisata.

Karena itu, keberadaan museum tersebut diharapkan mampu menjadi ruang belajar yang efektif bagi generasi muda, pelajar, mahasiswa, peneliti hingga wisatawan yang ingin memahami lebih dalam sejarah Morotai dalam dinamika perang dunia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai, Arifin Yusuf, mengaku belum mengetahui secara pasti kapan museum tersebut akan diresmikan pascarehabilitasi.

“Kalau untuk kapan diresmikan, saya belum tahu. Setahu saya museum ini dulu sebelum Sail Morotai dibangun oleh provinsi, kemudian diserahkan ke daerah dan sebelumnya berada di bawah Dinas Pariwisata sebagai penanggung jawab,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurut Arifin, hingga saat ini pihaknya juga belum menerima informasi resmi terkait agenda peresmian museum oleh pemerintah daerah.

“Setelah rehabilitasi selesai, saya juga belum mendapat informasi apakah akan diresmikan atau tidak,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan museum tersebut sudah dapat dikunjungi oleh masyarakat umum, pelajar maupun mahasiswa, baik dari Pulau Morotai maupun dari luar daerah.

“Sudah bisa dikunjungi masyarakat, pelajar dan mahasiswa, termasuk dari luar daerah,” tambahnya.

Selain berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah, Museum Perang Dunia II Morotai juga diproyeksikan menjadi salah satu penggerak sektor wisata sejarah di Kabupaten Pulau Morotai. Kehadirannya diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Di sisi lain, masyarakat berharap museum yang telah direhabilitasi menggunakan anggaran ratusan juta rupiah tersebut dapat segera diresmikan dan dioperasikan secara maksimal. Pengelolaan yang profesional dinilai penting agar museum mampu berkembang menjadi ikon wisata sejarah Pulau Morotai yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dengan rampungnya rehabilitasi tersebut, Museum Perang Dunia II Morotai diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan sejarah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan destinasi wisata edukatif yang mampu menjaga serta memperkenalkan warisan sejarah Morotai kepada generasi mendatang.

Radar nusantara 7.com//Morotai– Museum Perang Dunia II Morotai yang berlokasi di Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, kini kembali berfungsi setelah menjalani rehabilitasi berat dengan anggaran sebesar Rp583 juta. Meski hingga saat ini belum diresmikan secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, museum tersebut telah dibuka dan dapat dikunjungi masyarakat sebagai sarana edukasi sejarah serta destinasi wisata unggulan di daerah itu.

Rehabilitasi museum merupakan bagian dari paket pekerjaan “Rehabilitasi Berat Museum Perang Dunia Kedua Juanga” yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai. Berdasarkan data pengadaan, proyek tersebut memiliki kode tender 10069984000 dengan nilai pagu anggaran sekaligus Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp583.667.000 yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2025.

Pekerjaan konstruksi tersebut kini telah dinyatakan selesai dan hasil rehabilitasinya mulai dimanfaatkan untuk kegiatan kunjungan masyarakat maupun pelajar.

Pantauan di lokasi, bangunan museum mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding sebelumnya. Wajah baru museum terlihat lebih representatif dengan konsep yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai historis yang melekat sebagai salah satu saksi penting perjalanan Perang Dunia II di kawasan Pasifik.

Bagian depan bangunan kini tampak lebih tertata dengan dominasi warna krem yang dipadukan atap berwarna merah marun. Di beberapa sisi bangunan juga terdapat relief bertema peperangan yang semakin memperkuat identitas museum sebagai pusat dokumentasi sejarah dan penyimpanan berbagai artefak maupun informasi terkait Perang Dunia II di Pulau Morotai.

Sebagai salah satu wilayah yang memiliki peran strategis dalam operasi militer Sekutu di kawasan Pasifik pada masa Perang Dunia II, Pulau Morotai menyimpan banyak jejak sejarah yang memiliki nilai penting bagi dunia pendidikan maupun pariwisata.

Karena itu, keberadaan museum tersebut diharapkan mampu menjadi ruang belajar yang efektif bagi generasi muda, pelajar, mahasiswa, peneliti hingga wisatawan yang ingin memahami lebih dalam sejarah Morotai dalam dinamika perang dunia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai, Arifin Yusuf, mengaku belum mengetahui secara pasti kapan museum tersebut akan diresmikan pascarehabilitasi.

“Kalau untuk kapan diresmikan, saya belum tahu. Setahu saya museum ini dulu sebelum Sail Morotai dibangun oleh provinsi, kemudian diserahkan ke daerah dan sebelumnya berada di bawah Dinas Pariwisata sebagai penanggung jawab,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurut Arifin, hingga saat ini pihaknya juga belum menerima informasi resmi terkait agenda peresmian museum oleh pemerintah daerah.

“Setelah rehabilitasi selesai, saya juga belum mendapat informasi apakah akan diresmikan atau tidak,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan museum tersebut sudah dapat dikunjungi oleh masyarakat umum, pelajar maupun mahasiswa, baik dari Pulau Morotai maupun dari luar daerah.

“Sudah bisa dikunjungi masyarakat, pelajar dan mahasiswa, termasuk dari luar daerah,” tambahnya.

Selain berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah, Museum Perang Dunia II Morotai juga diproyeksikan menjadi salah satu penggerak sektor wisata sejarah di Kabupaten Pulau Morotai. Kehadirannya diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Di sisi lain, masyarakat berharap museum yang telah direhabilitasi menggunakan anggaran ratusan juta rupiah tersebut dapat segera diresmikan dan dioperasikan secara maksimal. Pengelolaan yang profesional dinilai penting agar museum mampu berkembang menjadi ikon wisata sejarah Pulau Morotai yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dengan rampungnya rehabilitasi tersebut, Museum Perang Dunia II Morotai diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan sejarah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan destinasi wisata edukatif yang mampu menjaga serta memperkenalkan warisan sejarah Morotai kepada generasi mendatang.

Reporter:fata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *