Radar Nusantara7.com – BOJONEGORO – Proyek pembangunan jalan rigid di Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, menjadi sorotan tajam masyarakat. Hingga memasuki awal tahun 2026, progres pekerjaan di lapangan diduga baru mencapai sekitar 15 persen. Aktivitas proyek pun disebut-sebut telah berhenti lebih dari dua bulan, memunculkan tanda tanya besar di tengah warga.
Proyek tersebut diketahui bersumber dari Bantuan Keuangan Desa (BKD) Tahun Anggaran 2025 dengan pagu anggaran sebesar Rp2.170.327.500 atau dibulatkan menjadi Rp2,17 miliar. Angka yang tidak kecil untuk ukuran pembangunan infrastruktur desa.
Berdasarkan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB), pekerjaan mencakup pembangunan jalan rigid sepanjang 1.050 meter dengan lebar 4 meter. Rincian anggaran proyek meliputi:
Pekerjaan Umum: Rp47.400.000
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK): Rp4.900.000
Pekerjaan Tanah dan Geosintetik: Rp334.407.600
Pekerjaan Perkerasan Berbutir: Rp139.860.258
Pekerjaan Struktur: Rp1.633.289.642
Pekerjaan Harian dan Lain-lain: Rp5.880.000
Total keseluruhan mencapai Rp2,17 miliar.
Namun, pantauan di lokasi menunjukkan pekerjaan belum berjalan optimal. Sejumlah ruas jalan masih dalam tahap awal pengerjaan. Bahkan, proses pengecoran beton sebagai bagian utama konstruksi rigid disebut belum dilakukan secara menyeluruh.
Kondisi ini memicu keprihatinan warga. Salah seorang warga Desa Bulu yang enggan disebutkan namanya mengaku heran dengan lambatnya progres proyek.
“Kalau melihat anggarannya sampai miliaran rupiah, mestinya hasilnya sudah kelihatan jelas. Tapi ini di lapangan masih seperti awal. Kami tahunya baru sedikit yang dikerjakan,” ujarnya.
Warga lain juga menyampaikan harapan agar ada keterbukaan informasi dari pihak pemerintah desa maupun pelaksana proyek terkait jadwal kerja dan tahapan penyelesaian.
“Kami tidak menuduh apa-apa. Tapi sebagai masyarakat, wajar kalau bertanya. Dana sebesar ini berasal dari uang rakyat. Jangan sampai muncul spekulasi yang tidak-tidak,” kata warga lainnya.
Bahkan, di tengah perbincangan warga, muncul kelakar bernada kritik, mempertanyakan bagaimana kelanjutan proyek jika pekerjaan terhenti cukup lama.
Meski demikian, sebagian besar warga tetap berharap proyek tersebut dapat kembali berjalan dan diselesaikan sesuai rencana.
Sorotan publik juga mengarah pada aspek pengawasan.
Minimnya informasi resmi mengenai progres fisik serta kendala yang dihadapi membuat masyarakat berharap adanya penjelasan terbuka. Transparansi dinilai menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan penggunaan anggaran berjalan akuntabel.
Sebagai proyek yang dibiayai dana publik, pembangunan jalan rigid di Desa Bulu diharapkan dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai spesifikasi teknis, serta melalui pengawasan yang ketat.
Infrastruktur tersebut nantinya sangat dibutuhkan untuk menunjang mobilitas warga dan mendukung aktivitas ekonomi desa.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pemerintah desa maupun pelaksana kegiatan terkait penyebab terhentinya aktivitas pekerjaan dan target penyelesaian proyek. Publik pun menunggu klarifikasi agar polemik yang berkembang tidak semakin meluas.
Sumber: TG
Editor Redaksi






