PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
IMG-20260811-WA0235

RADAR NUSANTARA 7.COM | JAKARTA — Kisah perjuangan Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), menjadi perhatian publik menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Ja’far merupakan penulis buku berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia”. Buku yang mengangkat perjalanan hidup, perjuangan pendidikan, pengalaman sosial, serta proses pengembangan inovasi tersebut telah diluncurkan dan dibedah dalam sebuah seminar dan talkshow berskala internasional di Aula G FKM Universitas Indonesia (UI).

Dalam keterangannya kepada awak media pada Minggu (16/8/2026), Ja’far mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan karya dan perjalanan hidupnya kepada kalangan akademisi, peneliti, praktisi, serta masyarakat luas.

“Kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara, Perpusnas, IKAPI, dan Kemenpora RI tersebut diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring. Acara mendapat dukungan resmi dari Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI,” ungkap Ja’far.

Ia menjelaskan, peluncuran dan bedah buku tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan perwakilan institusi. Menurut Ja’far, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan akademiknya sebagai mahasiswa semester pertama Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU.

“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Dalam bukunya, Ja’far mengangkat kisah hidupnya sebagai anak yatim yang berasal dari desa di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Ia menceritakan bagaimana dirinya merantau dengan modal sekitar Rp70.000 dan berusaha membiayai pendidikan melalui aktivitas berjualan roti sembari menjalani pendidikan.

Keterbatasan ekonomi dan akses terhadap sumber daya, menurut Ja’far, justru menjadi pengalaman yang mendorongnya untuk terus belajar, melakukan penelitian lapangan, pengujian laboratorium, serta mengembangkan berbagai gagasan inovasi.

Salah satu inovasi yang diangkat dalam buku tersebut adalah Biofar SS, yang menurut Ja’far dikembangkan melalui proses panjang berdasarkan pengalaman dan penelitian yang dilakukannya. Ia menyebut formulasi inovasi tersebut masih dirahasiakan.

Ja’far juga mengatakan dirinya telah lama melakukan berbagai kegiatan sosial, termasuk memberikan bantuan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Namun, klaim terkait manfaat maupun kemampuan penyembuhan suatu produk tetap memerlukan pembuktian dan verifikasi ilmiah serta ketentuan regulasi yang berlaku.

Ja’far menyebut dukungan pendidikan melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi amanah yang semakin mendorong dirinya untuk mengembangkan penelitian dan karya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, dukungan dari pimpinan institusi dan para dosen menjadi bagian penting dalam menjaga proses penelitian agar tetap memperhatikan aspek metodologi dan etika akademik.

Buku tersebut memiliki ketebalan lebih dari 400 halaman dan, menurut Ja’far, menggunakan lebih dari 200 referensi ilmiah dari berbagai disiplin ilmu.

Ia mengatakan buku tersebut tidak hanya disusun sebagai kisah motivasi, tetapi juga berusaha menghubungkan pengalaman hidup dengan berbagai teori ilmiah.

Beberapa teori yang dibahas antara lain teori modal sosial, kapabilitas manusia, Theory of Planned Behavior, teori keadilan kesehatan, determinan sosial kesehatan, psikologi perkembangan, teori sistem ekologi, post-traumatic growth, resiliensi, growth mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).

Dalam aspek manajemen, buku tersebut juga mengulas sejumlah pendekatan seperti prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS).

Melalui pendekatan tersebut, pengalaman hidup penulis dianalisis sebagai gambaran mengenai proses pembentukan karakter, ketahanan menghadapi keterbatasan, serta upaya mengembangkan inovasi yang memiliki nilai sosial.

Kegiatan bedah buku tersebut disebut dibuka atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.

Dalam sambutan tersebut disampaikan pesan bahwa potensi anak bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang ekonomi, tetapi juga oleh kejujuran, disiplin, ketekunan, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., turut memberikan pandangan mengenai buku tersebut. Ia menilai karya Ja’far memiliki nilai akademik karena berupaya menghubungkan pengalaman hidup dengan sejumlah teori yang relevan dengan kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.

Dalam forum tersebut juga muncul dorongan agar Ja’far terus mengembangkan kapasitas akademiknya hingga jenjang doktoral.

Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, melihat perjalanan hidup Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.

Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua, menghadapi keterbatasan ekonomi, hingga berjualan roti dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan seseorang.

Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., juga memberikan apresiasi terhadap karya tersebut sebagai bagian dari perjalanan akademik dan perjuangan Ja’far.

Apresiasi terhadap karya Ja’far juga disebut datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilan resminya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng.

Dalam kegiatan tersebut, Ja’far disebut mendapatkan pengakuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.

Selain itu, buku tersebut juga disebut masuk dalam koleksi referensi Perpustakaan Nasional RI. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen terkait.

Di tengah momentum menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kisah Ja’far kembali mendapat perhatian karena menggambarkan perjalanan seorang anak desa yang berusaha menempuh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.

Ja’far berharap karya tersebut tidak berhenti sebagai kisah pribadi, tetapi dapat menjadi motivasi bagi generasi muda agar berani menempuh pendidikan, melakukan penelitian, serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas dukungan beasiswa yang diterimanya.

“Kepercayaan besar yang diberikan negara ini tidak pernah saya sia-siakan. Ilmu yang saya peroleh selama pendidikan ingin saya wujudkan melalui karya dan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutup Ja’far.Sumber: tim

RADAR NUSANTARA 7.COM
Reporter: Redaksi
Editor: Redaksi
Minggu, 16 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *