PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
IMG-20260811-WA0236

Radar nusantara 7.com//JAKARTA – Kisah perjuangan dan perjalanan akademik Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU), menjadi sorotan dalam Seminar dan Talkshow sekaligus peluncuran dan bedah buku bertajuk “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia”.

Kegiatan tersebut digelar di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Agenda ini menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi, serta sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas perjalanan hidup, pendidikan, penelitian, dan inovasi yang dikembangkan Ja’far.

Dalam keterangannya kepada awak media, Senin (10/8/2026), Ja’far mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring.

Menurutnya, kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara, Perpurnas, IKAPI, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI itu mendapat dukungan dari sejumlah institusi, termasuk Perpustakaan Nasional RI, IKAPI, Kemenpora RI, dan FKM UI.

Peluncuran buku tersebut, lanjut Ja’far, juga dihadiri perwakilan pimpinan Polri. Acara dibuka atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Ja’far.

Buku tersebut mengangkat perjalanan hidup Ja’far yang mengaku berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh sebagai anak yatim di sebuah desa di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Dalam kisah yang dituangkan dalam buku, Ja’far menceritakan bagaimana dirinya merantau dengan modal sekitar Rp70.000 dan berusaha membiayai pendidikan dengan berjualan roti sambil menjalani perkuliahan.

Keterbatasan akses informasi, sumber daya, serta tantangan ekonomi justru menjadi pengalaman yang kemudian mendorongnya melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi.

Ja’far mengungkapkan bahwa proses pengembangan Biofar SS dilakukan melalui riset lapangan, pengujian laboratorium, serta uji coba di masyarakat. Ia menyebut formula inovasi tersebut masih dirahasiakan.

Ia juga mengaku telah lama memberikan pendampingan dan membantu masyarakat secara cuma-cuma dalam konteks pengetahuan yang dimilikinya. Namun, berbagai klaim mengenai manfaat atau kemampuan pengobatan produk tetap perlu dibuktikan melalui penelitian dan pengujian ilmiah yang sesuai ketentuan.

Buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup penulis. Menurut Ja’far, buku itu juga disusun dengan dukungan lebih dari 200 referensi ilmiah dari berbagai disiplin ilmu.

Sejumlah teori yang dibahas antara lain teori modal sosial dan kapabilitas manusia, Theory of Planned Behavior, teori keadilan kesehatan, serta konsep determinan sosial kesehatan.

Pada tingkat teori menengah, buku tersebut mengulas psikologi perkembangan, teori sistem ekologi, post-traumatic growth, resiliensi, growth mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).

Sementara dalam aspek manajemen, Ja’far menggunakan sejumlah pendekatan seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS).

Kerangka teori tersebut saya gunakan untuk menghubungkan pengalaman empiris dengan konsep ilmiah sehingga perjalanan hidup tidak hanya menjadi cerita motivasi, tetapi juga dapat dianalisis dari perspektif akademik,” jelasnya.

Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ia menilai karya Ja’far menarik karena berusaha menghubungkan pengalaman hidup dengan berbagai teori yang relevan dalam bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.

Dalam forum tersebut, Adang juga menyampaikan pandangan mengenai peluang Ja’far untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral, termasuk kemungkinan menempuh studi di perguruan tinggi luar negeri.

Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, melihat perjalanan hidup Ja’far melalui perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.

Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua, menghadapi keterbatasan ekonomi, serta perjuangan membiayai pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan seseorang.

Apresiasi juga disampaikan Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes. Ia menilai perjuangan Ja’far menjadi bagian dari perjalanan akademik yang dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa dan generasi muda.

Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan apresiasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilannya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam acara, Ja’far ditetapkan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.

Selain itu, disampaikan pula bahwa buku tersebut ditetapkan sebagai salah satu koleksi referensi di Perpustakaan Nasional RI.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen referensi.

Ja’far juga menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan melalui Program Beasiswa Kapolri yang membantunya melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara.

Saya mengucapkan terima kasih dan rasa syukur kepada Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengenyam pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Kepercayaan ini menjadi amanah untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia menegaskan, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan akan terus diarahkan pada kegiatan penelitian, pengembangan inovasi, dan kontribusi sosial yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Melalui buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia”, Ja’far berharap kisah perjuangannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana dan memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan.

Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan pendidikan, kerja keras, ketekunan, integritas, dan kepedulian terhadap sesama, setiap orang memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Reporter: tim Redaksi
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *