PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
ADVERTISEMENT
Iklan Radar Nusantara
Screenshot_20260302_015744.jpg

Radar Nusantara7.com – Program Makan dan Minuman Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi simbol kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa justru berubah menjadi polemik. Insiden dugaan pembagian susu kedelai basi kepada siswa sekolah di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, memantik sorotan tajam masyarakat.


Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 itu menyisakan tanda tanya besar tentang standar pengawasan mutu dalam pelaksanaan program tersebut di wilayah Tuban, tepatnya di Kecamatan Rengel.


Dari Kegembiraan Menjadi Kecemasan
Menu yang dibagikan saat itu terdiri dari piscok (pisang cokelat), telur rebus, dan sebotol susu kedelai. Anak-anak awalnya menyambut paket tersebut dengan penuh antusias. Namun suasana berubah drastis ketika beberapa botol susu kedelai dibuka.


Aroma asam yang menyengat langsung tercium. Cairan di dalam botol disebut telah mengalami perubahan, baik dari bau maupun konsistensi. Dugaan kuat mengarah pada kondisi susu yang sudah tidak layak konsumsi.
“Susu itu baunya tidak wajar, sangat asam. Kalau sampai diminum anak-anak, risikonya bagaimana?” ungkap salah satu saksi yang berada di lokasi.


Temuan tersebut segera dihentikan sebelum seluruh siswa mengonsumsi minuman tersebut. Meski belum ada laporan resmi korban keracunan, kekhawatiran sudah terlanjur meluas.
Pengawasan Dipertanyakan, SOP Dipersoalkan


Insiden ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana produk yang diduga basi bisa lolos hingga sampai ke tangan siswa? Apakah terjadi kelalaian dalam proses penyimpanan dan distribusi? Ataukah pengawasan mutu hanya sebatas formalitas?


Dapur penyedia MBG di lingkungan RT 07 RW 07 kini menjadi perhatian. Publik menilai, program sebesar ini seharusnya memiliki rantai kontrol kualitas yang ketat, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga distribusi akhir.


Susu kedelai yang telah basi berpotensi mengandung bakteri patogen yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan serius, seperti mual, muntah, diare, hingga dehidrasi. Risiko tersebut menjadi alasan utama mengapa masyarakat menilai kejadian ini bukan persoalan sepele.


Kepala Desa Minta Evaluasi Total
Kepala Desa Mundir menyampaikan keprihatinannya dan berharap yayasan pengelola melakukan evaluasi menyeluruh.


“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Anak-anak adalah prioritas. Jika memang melibatkan ahli gizi, maka pengawasan harus benar-benar ketat dan berkelanjutan agar tidak menjadi masalah di kemudian hari,” tegasnya.


Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan warga yang menuntut transparansi serta tanggung jawab dari pihak pengelola program.


Desakan Penelusuran Tuntas
Sejumlah warga berharap Satgas dari unsur TNI maupun Polri turut melakukan pendalaman agar fakta di lapangan terungkap secara jelas. Mereka menilai, jika benar terjadi kelalaian, maka harus ada sanksi tegas demi mencegah terulangnya kejadian serupa.


Program MBG adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas gizi siswa. Namun tanpa pengawasan yang disiplin dan profesional, niat baik dapat berubah menjadi ancaman.


Kini publik menanti klarifikasi resmi dari pihak pengelola dapur maupun yayasan terkait penyebab dugaan susu basi tersebut.

Evaluasi total, transparansi, dan perbaikan sistem menjadi kunci agar program ini kembali pada tujuan awalnya: menyehatkan, bukan membahayakan.


Sumber: Tim
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *