JAKARTA, Radar Nusantara7.com – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut diwarnai kisah inspiratif Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU).
Kisah perjuangan Ja’far yang dituangkan dalam buku berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” menjadi perhatian setelah karya tersebut diluncurkan dan dibedah dalam seminar serta talkshow berskala internasional di Aula G FKM Universitas Indonesia (UI).
Kegiatan yang berlangsung beberapa hari sebelum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, serta berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap literasi, kesehatan masyarakat, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Muhammad Ja’far Hasibuan menyampaikan kepada awak media pada Senin (17/8/2026), bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring.
Menurut Ja’far, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Mega Press Nusantara bersama Perpurnas, IKAPI, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, dengan dukungan dari sejumlah institusi terkait.
“Peluncuran dan bedah buku saya dihadiri berbagai unsur akademisi dan lembaga. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi saya untuk menyampaikan pengalaman dan gagasan yang selama ini saya kembangkan,” ujar Ja’far.
Ia menambahkan, karyanya tersebut lahir dari perjalanan panjang yang penuh keterbatasan. Ja’far mengisahkan dirinya sebagai anak yatim yang berasal dari desa di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Dengan modal awal sekitar Rp70.000, ia merantau dan berupaya membiayai pendidikan melalui berbagai usaha, termasuk berjualan roti.
Keterbatasan ekonomi dan akses terhadap sumber daya, menurut Ja’far, justru menjadi bagian dari perjalanan yang mendorongnya untuk terus belajar, melakukan penelitian, serta mengembangkan berbagai gagasan di bidang kesehatan dan inovasi.
Salah satu bagian yang diangkat dalam buku tersebut adalah perjalanan pengembangan inovasi yang disebut Biofar SS. Ja’far menyebut pengembangannya dilakukan melalui proses riset lapangan, pengujian laboratorium, serta uji coba di masyarakat. Namun, rincian formula inovasi tersebut tidak dipublikasikan.
“Pengalaman dan ilmu yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan akses pelayanan,” katanya.
Ja’far juga menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan pendidikan yang diterimanya melalui Program Beasiswa Kapolri. Menurutnya, beasiswa tersebut merupakan amanah yang harus dijawab dengan prestasi, integritas, dan karya yang memberikan manfaat.
“Kepercayaan negara melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi amanah bagi saya. Saya berusaha tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan mengarahkan ilmu yang diperoleh untuk menghasilkan karya yang bermanfaat,” ujarnya.
Buku yang memiliki ketebalan lebih dari 400 halaman tersebut disusun dengan dukungan lebih dari 200 referensi ilmiah dari berbagai disiplin ilmu. Selain mengangkat perjalanan hidup penulis, buku tersebut juga mengintegrasikan pengalaman empiris dengan sejumlah teori ilmiah.
Di antaranya teori modal sosial dan kapabilitas manusia, teori aksi terencana, teori keadilan kesehatan dan determinan sosial kesehatan, serta sejumlah teori tingkat menengah seperti psikologi perkembangan, sistem ekologi, post-traumatic growth, resiliensi, growth mindset, dan Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).
Pada aspek manajemen, buku tersebut juga membahas sejumlah pendekatan, seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, serta Work Breakdown Structure (WBS).
Pendekatan multidisiplin tersebut dimaksudkan untuk melihat perjalanan hidup dan pengembangan inovasi bukan semata sebagai kisah motivasi, melainkan sebagai pengalaman yang dapat dikaji melalui perspektif akademik.
Kegiatan peluncuran dan bedah buku tersebut juga mendapat perhatian dari jajaran Polri. Acara dibuka Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa perjalanan Muhammad Ja’far Hasibuan menjadi gambaran bahwa latar belakang ekonomi bukan satu-satunya penentu keberhasilan seseorang. Ketekunan, disiplin, integritas, serta kepedulian sosial dinilai menjadi bagian penting dalam membangun prestasi.
Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., turut memberikan apresiasi terhadap karya tersebut. Ia menilai buku Ja’far menarik karena menghubungkan pengalaman hidup penulis dengan teori-teori yang relevan dalam bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.
Dalam forum tersebut, juga muncul dorongan agar Ja’far terus mengembangkan kapasitas akademiknya, termasuk membuka peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, melihat perjalanan hidup Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan dan resiliensi. Pengalaman kehilangan orang tua, keterbatasan ekonomi, serta perjuangan membiayai pendidikan dinilai menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan.
Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., juga memberikan apresiasi terhadap karya tersebut. Menurutnya, perjuangan Ja’far menjadi kebanggaan bagi keluarga dan almamater serta menunjukkan pentingnya kerja keras, integritas, dan konsistensi dalam menghasilkan karya.
Apresiasi juga disebut datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilan resminya. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ja’far disebut mendapat penetapan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.
Selain itu, buku tersebut disebut masuk dalam koleksi Perpustakaan Nasional RI sebagai bagian dari koleksi referensi. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen terkait.
Menjelang dan pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang diperingati pada Senin, 17 Agustus 2026, kisah Ja’far kembali mendapat perhatian publik. Apresiasi juga muncul dari pembaca mancanegara yang menyampaikan ketertarikannya untuk memperkenalkan buku tersebut kepada komunitas pembaca.
Bagi Ja’far, perhatian terhadap bukunya bukan sekadar capaian pribadi. Ia berharap kisah perjuangan tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, untuk tetap berani bermimpi dan mengembangkan potensi melalui pendidikan.
Ja’far juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas dukungan pendidikan yang diterimanya.
“Terima kasih yang tulus kepada Ayahanda Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengenyam pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Kepercayaan ini menjadi tanggung jawab moral bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga melalui perjuangan meningkatkan pendidikan, mengembangkan inovasi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Meski demikian, berbagai klaim mengenai status “referensi akademik dunia”, penyembuhan melalui inovasi Biofar SS, maupun pengakuan kelembagaan tetap perlu dipahami berdasarkan dokumen dan keterangan resmi dari masing-masing institusi. Dengan demikian, informasi yang berkembang di ruang publik dapat tetap disajikan secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
Radar Nusantara7.com – Mengabarkan Fakta, Menjaga Independensi.






