RADAR NUSANTARA 7.COM | MOROTAI – Sebanyak 1.147 warga Kabupaten Pulau Morotai tercatat mengurus Kartu Tanda Pencari Kerja (AK-1) atau kartu kuning sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sebagian besar diketahui membidik peluang kerja di luar daerah, khususnya kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Kabupaten Halmahera Tengah.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Pulau Morotai, Rosita A. Lasidji, mengungkapkan data tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/8/2026).
“Pada tahun 2025 ada sekitar 1.147 orang yang mendaftar kartu kuning. Sebagian besar untuk bekerja ke luar daerah, terutama ke Weda dan IWIP. Mereka berasal dari lulusan SMA, SMP hingga S1,” ujar Rosita.
Menurutnya, Disnakertrans Morotai saat ini masih melakukan rekapitulasi data berdasarkan jenis kelamin melalui buku register. Karena itu, pihaknya belum dapat menyampaikan secara rinci komposisi pencari kerja laki-laki dan perempuan sepanjang 2025.
Sementara itu, hingga awal Agustus 2026, jumlah warga yang telah mengurus kartu kuning tercatat sebanyak 73 orang, dengan rincian 16 orang perempuan.
Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan periode pertengahan 2024 yang mencapai lebih dari 2.000 pencari kerja.
Rosita menjelaskan, kondisi penyerapan tenaga kerja di Morotai masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya berkaitan dengan keterbatasan pelaksanaan sejumlah program akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Salah satu program yang belum dapat berjalan adalah pelatihan kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Padahal, program tersebut dinilai penting untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi masyarakat sebelum memasuki dunia kerja.
“Sebenarnya kami punya program pelatihan kerja dari BLK. Tetapi karena efisiensi anggaran, program itu belum berjalan. Padahal anak-anak kita sangat membutuhkan pelatihan. Peralatannya ada, tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan anggaran,” jelasnya.
Selain pelatihan, Disnakertrans Morotai juga membutuhkan dukungan anggaran untuk membangun kemitraan dengan perusahaan. Kemitraan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja bagi tenaga kerja lokal.
“Begitu juga untuk membangun kemitraan dengan perusahaan guna membuka lapangan kerja baru, kami masih menunggu dukungan anggaran,” tambah Rosita.
Warga Pilih Cari Kerja ke Luar Daerah
Di sisi lain, seorang pencari kerja yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku memilih mencari pekerjaan ke IWIP karena terbatasnya lapangan kerja di Morotai.
“Ekonomi sekarang susah. Harga sembilan bahan pokok mahal, lapangan kerja hampir tidak ada. Saya memilih keluar bekerja di IWIP supaya bisa membantu orang tua di kampung,” ungkapnya.
Ia juga mengaku belum merasakan manfaat sejumlah program pemerintah daerah yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa peluang kerja di luar daerah masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat Morotai untuk memperoleh penghasilan. Sementara di daerah sendiri, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus memperluas kesempatan kerja melalui kemitraan dengan dunia usaha.
Pengembangan sektor potensial seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata juga dinilai menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal di Kabupaten Pulau Morotai.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai mengenai kondisi lapangan kerja secara menyeluruh maupun langkah strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal.
Radar Nusantara 7.com masih melakukan upaya konfirmasi kepada Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua dan Wakil Bupati Rio Christian Pawane guna memperoleh keterangan dari pemerintah daerah sekaligus menjaga pemberitaan tetap berimbang.
Reporter: Fhattahillamahasari
Editor: Korwil Radar Nusantara 7.com
RADAR NUSANTARA 7.COM
Berita Terpercaya, Berimbang dan Independen





