PROMO
📢 RadarNusantara7.com – Cepat • Akurat • Terpercaya | Terima Publikasi Berita & Iklan | Hubungi WA: 0823-3388-2911
1784695140772

Radar nusantara 7.com//Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis perkembangan situasi dan penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia selama periode Selasa (21/7/2026) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (22/7/2026) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, bencana kekeringan masih mendominasi sejumlah daerah, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa provinsi terus menjadi perhatian pemerintah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menyebutkan, dampak kekeringan masih dirasakan masyarakat di berbagai wilayah, khususnya di Pulau Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kekeringan yang terjadi sejak 1 Juli 2026 telah berdampak pada 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa. BPBD setempat menyalurkan total 11.500 liter air bersih ke sejumlah wilayah, di antaranya Desa Hambalang, Desa Gadog, dan Desa Sukajaya.

Sementara itu, di Jawa Tengah, kekeringan masih melanda sejumlah daerah. Kabupaten Banyumas mencatat sebanyak 2.867 kepala keluarga atau 9.002 jiwa terdampak, dengan bantuan air bersih mencapai 15.000 liter.

Di Kabupaten Cilacap, sebanyak 8.154 kepala keluarga atau 27.605 jiwa masih mengalami krisis air bersih. Hingga 21 Juli 2026, BPBD telah mendistribusikan 315.000 liter air bersih atau setara 60 tangki.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Klaten yang berdampak pada 3.330 kepala keluarga atau 10.908 jiwa. Sejak pertengahan Juni hingga 21 Juli 2026, sebanyak 321 tangki air bersih atau sekitar 1.605.000 liter telah disalurkan kepada masyarakat di Kecamatan Kemalang.

Di Kabupaten Sragen, kekeringan berdampak pada 294 kepala keluarga atau 736 jiwa. BPBD setempat mendistribusikan 10.000 liter air bersih ke Desa Galeh dan Desa Poleng.

Adapun di Kabupaten Grobogan, sebanyak 1.128 kepala keluarga masih terdampak kekeringan sejak Mei 2026. Bantuan air bersih sebanyak 20.000 liter telah disalurkan ke Desa Selo dan Desa Monggot.

Sementara itu, Kabupaten Pemalang mencatat sebanyak 5.346 kepala keluarga terdampak kekeringan. Tim gabungan BPBD dan PMI telah mendistribusikan total 81.000 liter air bersih kepada masyarakat.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, kekeringan di Kabupaten Kulon Progo berdampak pada 63 kepala keluarga atau 176 jiwa. Sebanyak 5.000 liter air bersih telah disalurkan kepada warga di Pedukuhan Clapar I, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap.

Untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino, BNPB terus memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, serta pipanisasi guna menjamin ketersediaan air bersih dan mendukung sektor pertanian di wilayah rawan kekeringan.

Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di sejumlah provinsi.

Di Provinsi Aceh, luas lahan terbakar hingga 21 Juli 2026 mencapai 761,68 hektare yang tersebar di 20 kabupaten dan satu kota. BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan operasi darat guna mencegah meluasnya kebakaran.

Sementara di Sumatera Selatan, karhutla telah melanda 12 kabupaten dengan total luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare. Penanganan dilakukan melalui patroli udara, operasi darat, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca. Hingga 20 Juli 2026, tercatat sebanyak 479 kejadian karhutla.

Kalimantan Tengah juga mencatat peningkatan luas lahan terbakar menjadi 889,92 hektare atau bertambah sekitar 37,24 hektare dibandingkan data sebelumnya. Penanganan terus dilakukan melalui operasi udara dan pemadaman darat.

Sedangkan di Kalimantan Selatan, luas lahan terbakar mencapai 39,4 hektare. Pemerintah provinsi masih menetapkan status Siaga Darurat hingga 31 Agustus 2026.

Selain kekeringan dan karhutla, BNPB juga terus memantau sejumlah bencana hidrometeorologi dan geologi.

Banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih menyebabkan 236 warga mengungsi di Gereja HKBP Desa Sipange, Kecamatan Tukka. Sedikitnya 145 rumah terdampak akibat luapan Sungai Arse yang kembali meluap setelah tanggul jebol.

Di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tanah longsor yang terjadi sejak 15 Juli 2026 masih mengisolasi sekitar 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa. BNPB telah mengirimkan bantuan logistik melalui jalur laut dari Tarakan untuk mendukung penanganan di lokasi terdampak.

Sementara itu, gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, mengakibatkan dua orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan satu orang luka ringan. Bencana tersebut juga berdampak pada 193 kepala keluarga atau 345 jiwa serta merusak 276 unit rumah.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, khususnya terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan. Pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan, memastikan ketersediaan air bersih, serta mengoptimalkan langkah mitigasi guna meminimalkan risiko bencana.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menggunakan air secara bijak, serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait.humas

(Redaksi Radar Nusantara7.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *