Radar Nusantara7.com –Rabu /4 Maret /2027 – Proyek rehabilitasi besar-besaran yang dilakukan di MTsN 1 Bojonegoro menuai apresiasi dari pihak sekolah. Kepala madrasah, M. Saifudin, menyampaikan bahwa pekerjaan tersebut membawa dampak signifikan terhadap peningkatan kenyamanan dan keselamatan proses belajar mengajar.
Dalam keterangannya kepada awak media di ruang kerjanya, M. Saifudin menjelaskan bahwa total terdapat 49 ruang kelas yang direhabilitasi. Pekerjaan itu melibatkan sekitar 28 tenaga kerja. Dari keseluruhan ruangan tersebut, dua ruang di antaranya bahkan harus dibangun ulang secara total karena kondisi bangunan sebelumnya sudah sangat rapuh dan tidak lagi layak digunakan.
“Dua ruang tersebut memang dalam kondisi sangat memprihatinkan. Demi keselamatan siswa dan guru, diputuskan untuk dilakukan pembangunan ulang,” ujarnya.

Menurutnya, secara fisik hasil pekerjaan telah memberikan perubahan signifikan terhadap fasilitas pendidikan di lingkungan madrasah. Ruang kelas kini dinilai lebih representatif untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Namun ketika awak media mencoba menggali informasi terkait pagu anggaran proyek rehabilitasi tersebut, pihak sekolah menyatakan tidak memegang detail teknis maupun besaran nilai proyek. M. Saifudin menegaskan bahwa sekolah hanya sebagai penerima manfaat dari hasil pekerjaan.
Kami di sini hanya menerima kunci. Proyek ini dari PHPC program Hasil penemuan cepat melalui Dinas PUPR dan dikerjakan oleh PT medya dari Jakarta. Untuk anggaran,kami tidak tau jelasnya.
Guna memperoleh keterangan lebih lanjut, kepala madrasah kemudian mempertemukan awak media dengan pihak yang berada di lapangan, termasuk konsultan dan perwakilan perusahaan pelaksana. Namun dalam pertemuan tersebut, pihak yang disebut sebagai pengawas lapangan juga menyampaikan bahwa informasi mengenai anggaran bukan menjadi ranah kamu bapak” kalo terkait pagu anggaran itu langsung ke kantor’ kami hanya bagian lapangan
“Itu bukan ranah kami, Pak,” ujar salah satu perwakilan di lokasi proyek.
Di tengah pelaksanaan proyek yang menyentuh puluhan ruang kelas dan bernilai pekerjaan cukup besar, awak media tidak menemukan adanya papan informasi proyek di area pekerjaan. Padahal, papan informasi merupakan salah satu bentuk keterbukaan publik yang lazim dipasang pada proyek yang bersumber dari anggaran pemerintah.
Ketiadaan papan informasi tersebut memunculkan sorotan dari sejumlah pihak. Masyarakat menilai bahwa sebagai proyek yang menggunakan dana pemerintah, transparansi merupakan hak publik. Informasi mengenai sumber anggaran, nilai kontrak, pelaksana pekerjaan, serta jangka waktu pelaksanaan seharusnya dapat diakses secara terbuka.
“Ini uang rakyat. Transparansi bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari akuntabilitas,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, secara umum proyek rehabilitasi tersebut tetap diapresiasi karena dinilai mampu meningkatkan kualitas sarana pendidikan. Publik berharap pembangunan fasilitas pendidikan dapat berjalan beriringan dengan prinsip keterbukaan informasi.
Rehabilitasi puluhan ruang kelas di MTsN 1 Bojonegoro diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak bagi para siswa. Namun di tengah semangat pembangunan, masyarakat menegaskan pentingnya transparansi agar tidak menimbulkan tanda tanya di kemudian hari.
Sumber: Tim
Editor: Redaksi






